December 20, 2019

Workshop Literasi dan Edukasi Penggunaan Media Sosial Kepada Peserta Didik di SMAN 1 Jatinangor, SMAN 24 Bandung, dan SMA Taruna Bakti Bandung

Kemajuan teknologi komunikasi nyatanya selain memberikan dampak positif, juga memberikan dampak negatif, khususnya bagi remaja. Dunia maya berisi berita dan informasi yang tak terhitung jumlahnya. Berbagai media sosial, di antaranya berupa jejaring interaksi seperti Facebook, Instagram, dan Twitter; dan portal berita seputar politik, ekonomi, budaya, pendidikan seperti detik.com, viva.com, dan tempo.co; serta ada pula laman daring (website) yang berisi hiburan seperti berita selebritas (infotainment) dan gaya hidup. Keberlimpahan informasi dan literasi tersebut akan sangat membantu bila dapat dimanfaatkan dengan baik, seperti membantu remaja untuk mengaktualisasikan diri, membantu proses belajar, berinteraksi dengan teman, bermain game, atau untuk sekedar mengisi waktu luang.

Akan tetapi, media sosial yang kini semakin menjamur, keberlimpahan informasi, berita dan bahan bacaan lainnya turut juga memberikan dampak buruk. Penyebaran berita bohong (hoax), penipuan melalui media sosial, tindakan kriminal yang dipicu oleh penggunaan media sosial, dan penyebaran paham sesat, hal-hal tersebut merupakan dampak negatif atas kemajuan teknologi yang terus mengancam remaja selama kemajuan teknologi tersebut masih terus berkembang.  

Karena itu, tim Program Pengabdian Masyarakat (PPM) Universitas Padjajaran yang diketuai oleh Dr. Elvi Citraresmana, M.Hum. dengan beranggotakan Dr. Rosaria Mita Amalia, M.Hum.; dan Rima Febriani, M.Hum telah melakukan pengabdian dan sosialisasi melalui kegiatan workshop literasi dan edukasi penggunaan media sosial kepada peserta didik di SMAN 1 Jatinangor, SMAN 24 Bandung, dan SMA Taruna Bakti Bandung. Kegiatan ini difokuskan pada siswa kelas XII yang diharapkan dapat menerapkan pemahaman tentang literasi media sosial pada saat mencari informasi seputar studi lanjut.

Lebih lanjut, kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan dari program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan tahun 2018, dengan mengusung tema yang sama, yaitu di sekolah menengah atas/sederajat di Kabupaten Cirebon; SMAN 1 Cirebon, SMAN 1 Palimanan, dan SMK Dinamika Arjawinangun. Pada PKM tersebut, hasil kegiatan menunjukkan bahwa workshop literasi dan edukasi penggunaan media sosial sangat perlu dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap terpaan dampak akibat penggunaan media sosial oleh kalangan remaja usia sekolah menengah atas/sederajat.

Dampak negatif akan kemajuan teknologi tidak dapat ditolak, namun dapat dicegah. Oleh sebab itu pengetahuan tentang literasi media sosial sangat penting. Hal ini yang mendasari kegiatan ini dilakukan. Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah filter terhadap konten media sosial memuat ideologi global yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia yang berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa. Sesuai dengan latar belakang bidang ilmu tim peneliti maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan linguistik.

Dengan filter tersebut, remaja khususnya usia Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat lebih waspada dalam memilah berita, di antaranya mengidentifikasi berita hoax. Dengan demikian, konten yang dapat membuat disintegrasi bangsa tidak dapat mempengaruhi sikap generasi muda Indonesia terhadap keutuhan bangsa.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk luaran penelitian skema Riset Hibah Fundamental Unpad (RFU) yang diketuai oleh Dr. Elvi Citraresmana, M.Hum dalam hal kewajiban diseminasi hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini berbentuk seminar diseminasi dan sosialisasi yang diselenggarakan dalam satu semester dan bertempat di tiga Sekolah Menengah Atas, dengan pembagian satu sekolah di Jatinangor, Kabupaten Sumedang; dan dua sekolah di Kota Bandung.

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, tim peneliti menemukan permasalahan diantaranya adalah pola berpikir remaja/siswa SMA sangat rentan dipengaruhi oleh dampak buruk kemajuan media sosial, selain itu remaja sebagai generasi bangsa bila tidak diedukasi dalam menggunakan media sosial rentan menjadi sasaran pembuat konten negatif dalam media sosial(misalnya hoax), yang dapat memecah kesatuan dan persatuan bangsa.

Kegiatan ini dilaksanakan pada 3 hari yang berbeda di setiap sekolahnya. Di SMAN 1 Jatinangor, kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 18 Juli 2019 pukul 08.00 – 10.00 WIB. Kemudian kegiatan selanjutnya dilaksanakan di SMAN 24 Bandung pada hari Rabu, 23 Juli 2019. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan di SMA Taruna Bakti Bandung digelar 3 hari berikutnya pada hari Jumat, 26 Juli 2019.

Sebelum kegiatan sosialisasi dilakukan, tim terlebih dahulu melakukan survey untuk mengurus perizinan kegiatan dan mengatur jadwal pelaksanaan kegiatan. Pada hari-H penyelenggaraan, kegiatan dilaksanakan dalam  bentuk seminar dan diskusi. Kegiatan pertama berupa pemberian pre-test berupa angket kuisioner untuk mengukur kemampuan dan pengetahuan siswa tentang literasi media sosial. Selanjutnya, pemberian paparan materi oleh pembicara selama tiga puluh menit secara bergantian kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi.

Setelah pemaparan materi selesai dilakukan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab selama tiga puluh menit, yaitu kesempatan siswa untuk bertanya kepada pembicara seputar materi yang sudah diberikan.  Selanjutnya, peserta diminta untuk berdiskusi mengenali dan menentukan apakah berita yang disajikan penulis adalah berita hoax atau bukan. Kegiatan diakhiri dengan pemberian post-test kepada peserta berdasarkan materi yang sudah diberikan.

Kegiatan yang dilaksanakan di SMAN 1 Jatinangor diikuti oleh 36 siswa kelas XII IPA. Berdasarkan hasil penyebaran angker kuisioner, data menunjukkan sebanyak sebanyak (a) 100% siswa memiliki akun sosial daring, (b) 8,3% siswa mengetahui literasi media sosial, dan (c) 70,3% siswa tidak mampu mengidentifikasi berita hoax.

Selanjutnya kegiatan yang dilakukan di SMAN 24 Bandung diikuti oleh 70 siswa kelas XII. Berdasarkan hasil penyebaran angker kuisioner, data menunjukkan sebanyak sebanyak (a) 100% siswa memiliki akun sosial daring, (b) 11 % siswa mengetahui literasi media sosial, dan (c) 68% siswa tidak mampu mengidentifikasi berita hoax.

Adapun kegiatan yang dilakukan di SMA Taruna Bakti Bandung diikuti oleh 26 siswa kelas XII IPS. Berdasarkan hasil penyebaran angker kuisioner, data menunjukkan sebanyak sebanyak (a) 100% siswa memiliki akun sosial daring, (b) 15% siswa mengetahui literasi media sosial, dan (c) 73% siswa tidak mampu mengidentifikasi berita hoax.

Maka dapat disimpulkan, sosialisasi kemampuan literasi media sosial di kalangan siswa menengah atas perlu untuk diberikan guna memberikan wawasan dan pengetahuan seputar pentingnya memiliki kemampuan literasi media sosial kepada siswa SMAN 1 Jatinangor, SMAN 24 Bandung, dan SMA Taruna Bakti Bandung yang merupakan generasi penerus bangsa Indonesia. Dengan pemberian edukasi penggunaan media sosial di kalangan generasi muda, harapannya konten yang dapat membuat disintegrasi bangsa tidak dapat mempengaruhi mereka sehingga persatuan dan kesatuan negara Indonesia tetap terjaga.

Artikel terkait