November 20, 2019

Teknologi Penanganan Hama Terpadu Untuk Daerah Pesisir

Pangandaran memiliki banyak wilayah yang tidak terpakai dan lahan tidak produktif yang sesuai untuk digunakan sebagai lahan budidaya tanaman buah naga (Sudarjat dkk., 2019). Untuk mensinergiskan program pertanian dan parowisata, maka pengembangan buah naga di pangandaran dilakukan untuk mendukung program Agrowisata Pangandaran.

Produksi buah naga di Indonesia masih relatif rendah. Salah satu penyebab rendahnya produksi disebabkan karena adanya serangan hama dan penyakit yang mengakibatkan turunnya kualitas dan kuantitas buah naga yang dihasilkan. Pertama kali dilaporkannya penyakit buah naga di Indonesia terjadi pada tahun 2010 di Provinsi Pulau Riau dan terjadi peningkatan serangan penyakit secara drastis pada sentral produksi bua naga di Kalimantan Timur pada lima tahun kemudian (Riska dkk., 2016). Faktor yang menyebabkan meningkatnya serangan hama dan penyakit pada buah naga

adalah kondisi lingkungan, rendahnya nutrisi pada tanah, serta kurangnya wawasan petani mengenai serangan hama dan penyakit buah naga (Yusuf dkk., 2017). Pengendalian yang dilakukan secara kurang tepat dapat menyebabkan meningkatnya biaya produksi , rusaknya lingkungan, dan bahkan meningkatkan kekebalan hama dan penyakit. Selain itu, Kondisi lingkungan daerah pesisir seperti di Pangandaran dapat menyebabkan perubahan tingkat populasi maupun variai hama dan penyakit yang

menyerang pada tanaman buah naga. Hal ini disebabkan karena adanya faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan kondisi lingkungan lainnya yang dapat meningkatkan bahkan menurunkan daya tahan hidup hama dan penyakit pada suatu tanaman (Pareek et al., 2017; Andrew and Hill, 2017). Untuk menghindari hal tersebut perlu dilakukan peningkatan wawasan petani baik informasi mengenai hama dan penyakit yang menyerang tanaman buah naga pada daerah pesisir maupun teknologi penanganannya secara terpadu. Peningkatan wawasan para petani dapat dilakukan dengan cara mengadakan penyuluhan baik dalam bentuk penyampaian materi ataupun melakukan praktek demplot. 

Maka dari itu tim PPM melakukan penelitian mengenai teknologi penanganan hama terpadu untuk daerah pesisir dengan tujuan untuk mengenalkan tanaman buah naga untuk dapat dibudidayakan di daerah pesisir salah satunya adalah Pangandaran, sebagai salah sumber pangan yang kaya akan gizi sebagai penunjang peningkatan gizi masyarakat serta memungkinkan untuk dijadikan sarana tambahan penghasilan masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan yang dimana hail dari penyuluhan tersebut ialah mayoritas peserta penyuluhan ini tidak menggunakan pestisida dalam pengendalian hama pada buah naga dan relatif membiarkan tanaman terserang karena belum adanya pengalaman penuh dalam melakukan budidaya tanaman buah naga serta karena harga pestisida yang cukup mahal. Sedangkan pada peserta yang menggunakan pestisida dalam mengendalikan hama pada tanaman buah naga mayoritas menggunakannya dalam jangka waktu tertentu sehingga aplikasi pestisida yang dilakukan terlalu banyak yang menyebabkan tanaman terkontaminasi dan biaya operasional budidaya tanaman buah naga menjadi mahal. Selain itu, peserta merasakan penggunaan pestisida tidak terlalu efektif dalam pengendalian hama pada buah naga. Hal ini disebabkan kemungkinan adanya kesalahan dalam pemanfaatan pestisida yang digunakan baik jenis, dosis, waktu aplikasi, dan lain- lain. Selain itu, berdasarkan hasil kuisioner menunjukan bahwa mayoritas peserta menggunakan pestisida. bahwa setelah dilakukannya penyampaian materi mengenai pendahuluan hama pada tanaman buah naga di daerah pesisir serta pengendaliannya secara terpadu dapat menarik peserta untuk mengaplikasikan pestisida untuk mengendalikan hama pada tanaman buah naga secara terpadu baik dari segi dosis, jenis, waktu aplikasi, dan cara aplikasi.

Program PPMD di Desa Cintaratu telah berhasil menginformasikan informasi mengenai hama yang menyerang pada tanaman buah naga pada daerah pesisir serta teknologi pengendaliannya secara terpadu. Antusias warga sangat tinggi untuk mengaplikasikan teknologi tersebut pada kebun buah naga mereka untuk emndapatkan hasil yang lebih baik. Dengan adanya kegiatan penyuluhan ini dapat terlihat peningkatan hasil dari kebun buah naga yang dikelola warga setempat dan memungkinkan untuk meningkatkan pendapatan yang dihasilkan oleh mereka. Dan diharapkan penerapan teknologi

pengendalian hama secara terpadu pada metode lain seperti metode hayati, kultur teknis, dan lain-lain untuk emngoptimalkan sistem pertanian terpadu.

Penulis : Dr. Ir. H. Sudarjat, M.P., Syariful Mubarok, Ph.D. dan  Dr. Ir. Vijaya Isnaniawardhani,

Artikel terkait