December 19, 2019

Sosialisasi Standar Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit Di Kecamatan Serang Panjang Kabupaten Subang

Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia dimana kurang lebih 45% dari total produksi minyak sawit didunia. Sebagai produsen utama kelapa sawit, Indonesia melakukan ekspansi lahan sawit dibeberapa daerah untuk meningkatkan produksi serta memenuhi tingginya permintaan terhadap produk kelapa sawit di pasar internasional. Merespon hal tersebut pada tahun 2011, pemerintah Indonesia dalam hal ini kementrian pertanian mengeluarkan suatu kebijakan terkait perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang dikenal dengan nama Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). 

Dengan adanya upaya perluasan lahan perkebunan kelapa sawit ini tentunya akan memberikan dampak terhadap perekonomian dan lingkungan sekitar. Dampak positif dari adanya perluasan perkebunan kelapa sawit ini yaitu dapat menyerap tenaga kerja sehingga dapat mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan pendapatan petani sekitar, namun disisi lain dampak negatif dari adanya kegiatan tersebut, akan adanya pihak – pihak yang kurang bertanggung jawab dalam pembukaan lahan tersebut, seperti dengan melakukan penebangan dan pembakaran hutan secara besar – besaran akibat dari ekspansi kelapa sawit yang menyebabkan erosi dan polusi udara.

Maka dari itu tim PPM Universitas Padjadjaran (Unpad) yang diketuai oleh Dr.rer.pol Ernah SP.MSi fan dibantu oleh dua anggotanya yaitu Dr. Eliana Wulandari, SP., MM dan Dr. Ir.H. Sudarjat., MP melakukan penelitian mengenai sosialisasi standar berkelanjutan perkebunan kelapa sawit di kecamatan Serang panjang kabupaten Subang. Penelitian ini bertujuan untuk Meningkatkan pengetahuan Petani Kelapa Sawit di Jawa Barat mengenai standar keberlanjutan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). dan Memotivasi petani untuk melakukan prinsip, kriteria dan panduan yang terdapat pada ISPO.

Yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah petani kelapa sawit di Kabupaten Subang Jawa Barat. Diharapkan pada kegiatan ini semua pihak setempat dapat memberikan bantuan dan kerjasamanya sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui ceramah dan diskusi yang dilakukan dengan proporsi yang sama, kira-kira 50%.

Wilayah selatan Kabupaten Subang memiliki perkebunan kelapa sawit yang luasnya puluhan hektar, yang dikuasai oleh PT Perkebunan Negara (PTPN) maupun oleh pihak swasta. Di Kecamatan Serangpanjang ini sebagian besar lahan desa didominasi dengan persawahan. Yang kemudian menurut penuturan kebanyakan warga di Kecamatan Serang Panjang bahwa kebun kelapa sawit itu rakus akan air, sehingga banyak air yang terambil oleh tanaman kelapa sawit. Hal tersebut diutarakan oleh warga karena sebelumnya ketika ditanami kebun teh, kebutuhan air selalu terpenuhi. Komoditas minyak sawit memang merupakan komoditas penting di dunia, namun di sisi lain, industri kelapa sawit banyak di kritisi karena dituding memiliki dampak negatif, terutama dampak lingkungan hidup dan dampak pelanggaran hak asasi manusia (HAM) seperti halnya yang terjadi di Kecamatan Serang Panjang. Seperti yang telah dijelaskan di atas, hal tersebut menimbulkan dampak negatif pada aspek sosial dan lingkungan. Menurut penuturan dari Sekertaris Camat Kecamatan Serangpanjang mengutarakan bahwa PTPN VIII sendiri telah menerapkan standard ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) dalam pengelolaan perkebunannya, namun pada kenyataannya masih terdapat masalah yang dirasakan oleh masyarakat sekitar.

Berdasarkan hasil survey ditemukan bahwa petani kelapa sawit di Jawa Barat jumlahnya sangat sedikit dan 100% mereka tidak mengetahui mengenai ISPO.Melalui kegiatan ini petani kelapa sawit jadi mengetahui ISPO dan tertarik untuk menerapkannya untuk mencapai produksi kelapa sawit yang berkelanjutan. Sebaiknya pemerintah dapat lebih mempromosikan prinsip ISPO pada petani kelapa sawit di Jawa Barat.

Penulis : Dr.rer.pol Ernah SP.MSi fan, Dr. Eliana Wulandari, SP., MM dan Dr. Ir.H. Sudarjat., MP

Artikel terkait