October 31, 2019

Sosialisasi Peran Vitamin D pada Kesehatan

Infeksi human immunodeficiency virus (HIV) merupakan penyakit yang dapat ditransmisikan melalui kontak seksual, penggunaan jarum suntik dan transmisi ibu ke janin. Infeksi HIV diawali dengan ikatan antara glikoprotein HIV dengan reseptor CD4 pada sel inang, fusi antara virus dan membrane sel dan selanjutnya replikasi dan sintesis mRNA virus. Limfosit T yang terinfeksi akan dieliminasi oleh komponen sitotoksik yang dihasilkan HIV dan produksi limfosit T juga akan menurun secara bertahap. Sehingga, pasien dengan HIV terjadi penurunan jumlah sel CD4 atau limfosit T. Pada awal infeksi, pasien memiliki tanda dan gejala yang tidak spesifik yang mirip dengan infeksi influenza seperti demam, lemas, kelelahan dan sakit kepala. Fase ini selanjutnya diikuti oleh fase asimtomatik selama kurang lebih 10 tahun. Sehingga, pasien biasanya tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi. Di sisi lain, pasien yang tidak menerima terapi yang cukup dapat mengalami progresi menjadi AIDS.

Saat ini, defisiensi vitamin D menjadi masalah dunia karena Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya vitamin D dalam kesehatan dan kurangnya pemahaman bahwa vitamin D bisa didapatkan dengan perubahan pola hidup yang sederhana dan murah menjadi pokok permasalahan penelitian ini, terutama pada pasien yang terkena infeksi tuberkulosis dengan HIV. Dengan meningkatkan kesadaran bahwa vitamin D sangat bermanfaat terhadap sistem imun khususnya dan kesehatan pada umumnya, diharapkan masyarakat target kegiatan pengabdian pada masyarakat dapat meningkatkan kadar vitamin D dalam tubuhnya dengan perubahan pola hidup sederhana seperti berjemur, makan makanan yang sehat dan membatasi pemakaian tabir surya

Karena itu PPM yang terintegrasi KKN Universitas Padjadjaran melakukan penelitian mengenai SOSIALISASI PERAN VITAMIN D PADA KESEHATAN penelitian ini dilaksanakan diKlinik Teratai RSHS, atas pertimbangan bahwa Klinik Teratai RSHS, merupakan salah satu klinik di Kota Bandung yang menjadi tempat pusat kegiatan penanggulangan HIV/AIDS di RSHS.Kegiatan yang dilaksanakan terdiri dari penyuluhan dan pengisian kuesioner yang ditujukan untuk pengunjung baik pasien atau pendamping pasien yang datang ke Klinik Teratai RSHS, Bandung. Selain itu pengawai termasuk dokter, apoteker dan pegawai di Klinik Teratai juga diberikan penyuluhan. 

Kekurangan vitamin D sering kali sulit terdeteksi karena gejalanya yang tidak spesifik. Padahal, kekurangan vitamin D dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah pada tulang, seperti penyakit rakitis dan osteoporosis, serta melemahnya sistem kekebalan tubuh. Defisiensi vitamin D bisa dialami oleh siapa pun, termasuk bayi, anak-anak, dan orang dewasa Tingginya defisiensi vitamin D disebabkan rendahnya asupan vitamin D dimana jumlah bahan makanan sumber vitamin D terbatas dan rendahnya paparan sinar matahari. Paparan sinar matahari pada kulit merupakan cara terbaik untuk sintesis vitamin D dari previtamin D yang terdapat di bawah kulit. 

Hasil dari kegiatan ini adalah pasien Klinik Teratai serta masyarakat dapat mengetahui fenomena kekurangan vitamin D yang terjadi di Indonesia dan penyebab serta dampaknya bagi kehidupannya. Pasien Klinik Teratai dan masyarakat juga dapat mengetahui bagaimana kondisi yang terjadi pada dirinya masing-masing yang dapat dilihat dari aspek status gizi, pola makan, serta tingkat pengetahuan mengenai gizi, dan paparan sinar matahari.

Setelah adanya kegiatan KKN yang diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran ini diharapkan dapat membangun kesadaran dan pengetahuan masyarakat awam tentang vitamin D serta perubahan pola hidup/perilaku masyarakat yang dapat meningkatkan vitamin D. 

Artikel terkait