December 3, 2019

Sosialisasi Kebencanaan Geologi di Majalengka

Tim Program Pengabdian Masyarakat (PPM) Universitas Padjajaran yang diketuai oleh Abdurrokhim, ST., MT.,Ph.D. dengan beranggotakan Billy Gumelar Adhiperdhana, ST.,M.Si. Ph.D; dan Dr. Ir. Djadjang Jedi Setiadi, M.Sc telah melakukan pengabdian dan sosialisasi kebencanaan geologi di Majalengka.

Kabupaten Majalengka, terletak di sebelah barat dari Gunung Ciremei.  Seperti halnya wilayah lain di Propinsi Jawa Barat yang terletak di bagian tengah dari Pulau Jawa, merupakan wilayah-wilayah dengan topografi gunung api dan lereng yang disebabkan oleh aktifitas magmatisme. Di samping itu wilayah ini pada umumnya telah mengalami deformasi yang kuat, yang kemudian menyebabkan topografi yang berelief tinggi.

Proses-proses magmatism (sampai terbentuknya gunung api), aktivitas tektonik yang menyebabkan terbentuknya sesar-sesar merupakan zona-zona yang cukup potensial untuk aktif dan rawan untuk terjadinya gempa bumi. Di samping itu pada sentuh antara litologi penyusun yang banyak didominasi batulempung, untuk endapan Tersiernya, dan endapan volkanik yang muda di atasnya memberikan peluang untuk terjadinya longsor, terutama pada bidang-bidang permukaan dengan kemiringan yang tinggi.

Wilayah Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka dicirkan dengan topografi bergelombang dan kerucut, dengan kemiringan lereng yang bervariasi sampai sangat curam, sebagai akibat dari proses-proses magmatisme dan tektonik serta pelapukan dan erosi. Batuan penyusun di wilayah ini didominasi oleh batuan klastika halus di bagian atas, yang dicirikan oleh endapan-endapan Formasi Subang dan Formasi Halang bagian atas, serta endapan-endapan klastika kasar yang dicirikan dengan Formasi Halang bagian bawah. Formasi Cinambo yang tersingkap di bagian agak utara dicirkan dengan perselingan antara batulempung dan batupasir.

Formasi Cinambo adalah formasi batuan yang paling tua dari Cekungan Bogor yang tersingkap di Majalengka, Jawa Barat, yang komposisi litologinya terdiri dari perselingan batulempung, batupasir dan breksi (Djuri, 1973). Formasi Cinambo disusun oleh batupasir tufaan, batupasir gampingan dan shale yang berumur Miosen Awal (Djuri, 1973). Formasi ini ditutupi secara selaras oleh endapan volkaniklastik Formasi halang yang berumur Miosen Tengah-Akhir (Djuri, 1973).

Mengingat kondisi alamiah dasar yang demikian, maka pemahaman tentang longsor serta gempa bumi perlu kiranya untuk disosialisasikan, terutama kepada generasi muda (anak-anak sekolah), agar mereka memahami potensi wilayah dan juga kerawanan, sehingga pada waktunya menjadi pimpinan untuk mengambil kebijakan dapat menyiasati dengan baik. Untuk itu perlu diadakannya sosialisasi bencana longsor dan gempa bumi di wilayah Majalengka. Sosialisasi dilaksanakan pada wilayah Kecamatan Bantarujeg, hal ini karena daerah ini sering digunakan oleh para mahasiswa geologi, Universitas Padjadjaran untuk kegiatan lapangan, baik kegiatan untuk beberapa mata kuliah secara tersendiri, maupun kegiatan lapangan secara terpadu, seperti pemetaan geologi ataupun ekskursi untuk beberapa mata kuliah.

Kegiatan ini dilaksanakan untuk memahami secara garis besar mengenai longsor dan gempa bumi, yaitu dengan cara pengenalan-pengenalan berbagai aspek yang bisa berhubungan atau sebagai penyebab terjadinya gempa bumi dan longsor, diantaranya yaitu pengenalan tentang bumi, gunung api, lempeng benua dan samudra, fenomena alam dan proses-proses dalam bumi, batuan dan tanah, longsor, topografi dan lereng, dan air dan curah hujan.

Tentu saja tidak semua materi dapat disampaikan semuanya pada kegiatan pengabdian kali ini. Pada kesempatan kali ini lebih banyak didiskusikan secara umum dan gambar/ kartun serta film untuk memberikan gambaran umum. Materi sosialisasi telah dilakukan untuk kegiatan kali ini kepada para murid SD Negeri  Bantarujeg 1, Bulan Juli  2019. Metode sosialisasi yang digunakan adalah dengan presentasi berupa gambar-gambar kartun yang sederhana dan mudah dipahami, serta film. Tanya jawab dan diskusi dilakukan secara dua arah sehingga didapat suasana yang enak dan cair.

Tahapan Kegiatan

Tahap pertama persiapan, bersisi kegiatan persiapan untuk survey lapangan, pembuatan peta dasar, inventaris lapporan-laporan geologi yang sudah pernah dilakukan di daerah ini.

Tahap kedua survey lapangan, survey lapangan dilakukan untuk pengecekan daerah-daerah yang berpotensi longsor dilihat dari ketinggian dan kemiringan lereng, batuan penyusun serta struktur geologinya.

Tahap ketiga kegiatan studio, pembuatan reseme lapangan  (peta), penyusunan foto, pengadaan slide dan film mengenai untuk longsor dan gempa bumi.

Tahap keempat sosialisasi, dilakukan di kecamatan Bantarujeg.

Kemudian setelah tahap-tahap diatas selesai, dilakukan pelaporan berisi kegiatan selama sosialisasi berlangsung, baik persiapan dan paska kegiatan sosialisasi.

Karena kegiatan ini bersamaan dengan kegiatan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) terintegrasi Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), maka sosialisasi tidak hanya mengenai kebencanaan geologi, akan tetapi dilakukan juga sosialisasi pentingnya media komunikasi dan label produk dalam pemasaran pada produsen makanan rumahan di Bantarujeg, dan penyuluhan mengenai pentingnya pemahaman bullying pada siswa Sekolah Dasar di SDN 1 Bantarujeg.

Artikel terkait