November 29, 2019

Sosialisasi dan Aplikasi Pupuk Hayati pada Tanaman di Desa Cileles, Kabupaten Sumedang

Tim Program Pengabdian Masyarakat (PPM) Universitas Padjajaran yang diketuai oleh Dr. Emma Trinurani Sofyan, ST., MP. dengan beranggotakan Dr. Betty N. Fitriatin, Ir., MP.; dan Dr. Ir. Maya Damayani, MS. telah melakukan pengabdian dan sosialisasi mengenai aplikasi pupuk hayati pada tanaman di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2019 di Kantor Desa Cileles dan diikuti oleh petani dan buruh tani di Desa Cileles. 

Adapun tujuan dari dilaksanakannya kegiatan sosilisasi ini yaitu untuk mengenalkan,  mempraktekkan  dan  memotivasi    anggota  kelompok  tani untuk membuat atau memanfaatkan limbah/sampah menjadi olahan yang berguna untuk diri mereka sendiri dan juga lingkungan.

Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah dengan mengadakan penyuluhan dan pelatihan tentang sikap dan pola pikir tentang pupuk hayati dari kotoran ternak. Alat yang digunakan dalam pertemuan dengan para petani berupa proyektor beserta background, slide, handout presentasi dan bahan-bahan yang digunakan dalam pupuk hayati.

Hasil   berbagai   penelitian   dan   publikasi   dampak   penggunaan   kimia pertanian, berdampak positif terhadap cara pandang masyarakat terhadap produk organik seperti bahan pangan pokok, sayur, buah maupun produk daging seperti daging, susu dan telur. Masyarakat mulai tertarik untuk mengkonsumsi bahkan bercocok tanam secara organik demi kesehatan dan lingkungan. Permintaan padi organik semakin meningkat meskipun jika dinilai dari ekonomi harganya lebih mahal, akan tetapi dari segi kesehatan lebih tinggi nilainya.

Kondisi inilah yang dimanfaatkan petani di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor untuk memenuhi permintaan Tanaman Organik. Sumber  daya  alam  dan  manusia yang  sangat  mendukung,  seperti  adanya lahan sawah, petani dan buruh tani. Berdasarkan potensi dan peluang tersebut maka dilakukan pengabdian mengenai pupuk hayati yang ramah lingkungan.

Petani di Desa Cileles memilki animo bercocok tanam yang tinggi, kemauan belajar dan kemandirian yang baik. Jenis tanah di daerah Cileles adalah jenis tanah yang sudah jenuh dengan pupuk buatan. Intensitas penggunaan pupuk buatan sangat tinggi, karena petani belum mendapat edukasi mengenai input pertanian ramah lingkungan. Maka dari itu perlu adanya informasi dari institusi pendidikan dalam hal ini kami selaku pelaksana pengabdian kepada masyarakat dalam upaya peningkatan prduktivitas tanah selanjutnya meningkatkan kesehatan tanah.

Petani di Cileles mampu menghasilkan  pupuk hayati secara kontinyu, akan tetapi untuk produksi masih terkendala pada lokasi pembuatan pupuk dan sarana  pengolahan  lahan.  Sehingga  berdasarkan kondisi tersebut, maka Universitas Padjadjaran layak melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat  mengenai pupuk hayati di Desa Cileles.

Pertemuan antara tim pelaksana PKM bersama mahasiswa KKN dengan para petani di Desa Cileles berjalan sangat baik. Ketika tim pelaksana dan mahasiswa tiba di Kantor Kepala Desa Cileles, tim disambut oleh Kepala desa, Sekretaris desa, perangkat desa yang lain, dan para petani.  Pertemuan ini diawali dengan perkenalan. Tim PPM dikenalkan oleh Kepala Desa Cileles kepada para petani dan perangkat desa, kemudian tim PPM juga mendengarkan perkenalan dari perangkat desa yang hadir. Pembukaan pertemuan antara pengabdi dan para petani di desa dilakukan oleh Kepala Desa Cileles. Selanjutnya pemaparan pemanfaatan pupuk hayati untuk meningkatkanproduksi pertanian dibawakan oleh pengabdi secara bergantian selama 60 menitdan dilanjutkan dengan diskusi dan Tanya-jawab antara pengabdi dan para petani.

Pertemuan ini sangat menarik dengan adanya interaksi yang baik antara pengabdidan para petani. Banyak sekali pertanyaan  yang  dilontarkan  oleh  para petani kepada  tim pelaksana.

Hasil kegiatan pelatihan pembuatan pupuk hayati dan cara penggunaannya untuk mewujudkan pertanian ramah lingkungan di Desa Cileles didasarkan pada respons petani dan KWT sebagai pelaku pertanian sangat tertarik terhadap materi pelatihan sesuai dengan sasaran dan metoda pelatihan. Capaian pelaksanaan pengabdian kepada para petani sayuran berupa sosilisasi dan pendampingan petani dalam usahatani sayur, berupa pelatihan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam pembuatan pupuk hayati diukur dari respons kehadiran para peserta pelatihan yang

dihadiri oleh 20 orang. Aktifitas kegiatan di ditunjukkan oleh partisipasi peserta pelatihan dalam diskusi dan berbagi pengalaman, ditunjukkan oleh para petani, yang direkam dalam foto-foto. 

Demplot uji pupuk kimia, organik dan pupuk hayati menunjukkan bahwa secara umum pertumbuhan sayur kangkung, bayam dan petsai sangat dipengaruhi oleh jenis pupuk. Pertumbuhan pupuk hayati lebih baik dibandingkan dengan pupuk organik dan pupuk kimia untuk tanaman kangkung. Demikian pula untuk bayam. Berbeda untuk tanaman sawi, penggunaan pupuk organik menunjukkan produksi lebih tinggi ratarata 20 % lebih tinggi dari pupuk urea. Uji pupuk hayati dan pupuk organik terhadap produksi bayam, kangkung dan sawi

hijau lebih tinggi dari pupuk urea. Uji berbagai jenis pupuk dapat memberikan alternative, untuk usahatani sayuran tidak saja mengguanakan pupuk kimia, seperti Urea, namun dapat juga menggunakan kotoran sapi, bila urea sulit didapat atau harganya dianggap mahal. Permasalahan utama adalah kotoran sapi sulit didapat. Demikian pula untuk membuat pupuk hayati sendiri dianggap memerlukan waktu. Karena sebagai petani penyewa, sangat intensif melaksanakan usahatani sayuran, menghendaki tanaman cepat tumbuh baik . Bahkan petani sudah mengunakan zat perangsang tumbuh untuk mempercepat dan memberikan warna daun lebih hijau. Artinya penggunaan bahan kimia sudah terbiasa dalam melaksanakan usaha tani sayuran. Dengan kata lain para petani mengejar produksi, dan nilai ekonomi yang tinggi dibanding dengan memikirkan lingkungan. Perubahan pemikiran untuk menuju ke pertanian ramah lingkungan perlu disosilisasikan secara terus menerus, mengingat produksi sayuran dari daerah ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Desa Cileles. Kita tidak bisa melarang bertani sayuran dengan menggunakan bahan kimia. Namun kita berusaha memberikan pengetahuan bahwa pertanian ramah lingkungan perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk dan layak konsumsi.

Dengan dilaksanakannya kegiatan sosialisasi mengenai aplikasi pupuk hayati pada tanaman di Desa Cileles ini, diharapkan petani mampu mengolah limbah menjadi pupuk hayati sehingga menjadi mandiri dalam penyediaan pupuk.

Artikel terkait