October 25, 2009

RESPON PESERTA PASAR PERKOTAAN ATAS RAGAM PRODUK SUBURBAN-PERDESAAN DALAM SITUASI DAN DAMPAK GELOMBANG KRISIS EKONOMI 2006-2008

Suparmo

(Dikti Depdiknas 2009-Strategi Nasional)

 

Krisis ekonomi merusak dunia, di Indonesia pihak yang paling terkena dan paling sulit dihadapi biasanya kala memukul kelas terbawah. Kajian kelas bawah yang terbawah ini dilakukan pada kelompok pedagang mikro sebagai bagian “usaha terpinggir” ternyata mereka berada dalam kegiatan kerja yang serba berat untuk itu diambil sample secara acak dan diolah secara kualitiatif dari 342 responden pedagang yang “mobilitas jajaan” mereka menggunakan roda dorong, dipikul, dijinjing atau sejenis di kota Bandung. Hasil kajian dari sisi podusen-pedagang, di sisi andalan usaha ditemukan sebagian besar pedagang sebanyak 77 persen usaha mereka “Sama sekali tak bisa-Kurang/Belum bisa diandalkan lagi guna membantu ekonomi keluarga (Tabel 5.1.1). Pada sisi penghasilan: Berat-berat sekali bagi para pedagang mikro dalam menghadapi kesulitan atau dalam memperoleh/ menambah penghasilan keluarga berbasis usaha “yang sedang dijalankan” dirasakan oleh sebanyak 79 persen pedagang (Tabel 5.1.2). Pada sisi persaingan: “Persaingan terasa makin berat” ternyata dirasakan juga sebanyak 79 persen pedagang (Tabel 5.1.2.1 ). Persaingan menjadi kian berat dengan begitu banyak dari mereka yang masuk dunia jajanan. Sisi yang potensial kian berat ini karena pengangguran buruh-buruh dari segala sector potensial cukup masuk ke sector makanan-jajanan (jenis tersederhana). Bandung (tak berbeda dengan Yogyakarta dan Jakarta) begitu jenuh bagi pedagang jajanan mikro kelas terbawah/sederhana akibat lanjutnya mereka menghadapi kesulitan mempertahankan/mengandalkan penghasilan. Stabilitas pasar tak terjaga, tergantung pada oversulpai produk dengan banjir pedagang di Bandung seperti halnya Jakarta dan Yogyakarta sehingga megakota tak bisa lagi menolong para pedagang potensial strategis tanpa menurunkan kesejahteraan pedagang lainnya, aksiomatis. Pemegang modal, informasi dan input lainnya dari pasar Jakarta melakukan intervensi ke Bandung atau Yogyakarta begitu pula sebaliknya. Pemodal raksasa berbaur dengan ragam level pasar mirip menempatkan beberapa pasang singa “bisnis besar” di kandang yang padat domba “lemah usaha”. Praktik UU Indonesia mengharuskan domba hidup rukun demi Ham singa dan kebebasan singa. Demi Ham singa maka ribuan domba harus mau berbaur dengan puluhan pasang singa dalam satu kandang. Bisnis kelas singa mengasongkan via kotak-kotak mini market di setiap jarak 20-100 meter agar bisa bersaing dengan bisnis lemah di pedalaman Jawa dan kini target Indonesia. Akan lumpuhkah si kecil perdesaan dan pinggiran kota? Politikus dan ekonom belum yakin pentingnya praktik undang-undang antimonopoli.

Kata Kunci: Produk Pasar Perkotaan, Krisis Ekonomi

Artikel terkait