August 3, 2009

Reposisi KKNM Unpad: Belajar Bersama Masyarakat

Entah muncul dari kegalauan seorang mantan peserta KKN di era 1970-an,  atau datang dari kegelisahan mantan seorang supervisor KKN di tahun 1980-1983, atau karena sebuah tinjauan kritis seorang sosiolog, mendorong Rektor Unpad, Prof. Dr. Ganjar Kurnia tidak henti-hentinya  memberikan perhatian ekstra besar terhadap  perumusan format dan pencarian bentuk KKNM Unpad yang tepat.

“Pada tahun 1976 kebetulan saya menjadi Sekretaris Panitia Seminar Nasional  “Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Desa”, yang dilaksanakan oleh Dewan Mahasiswa Unpad,” ungkap Rektor ketika membuka Lokakarya Reposisi KKNM Unpad di  Gedung  LPPM Unpad, Bidang Pengabdian, Jln. Banda Bandung, pada 11 Juni lalu. 

Ada salah satu makalah yang menarik dari Prof. Dr. Yudisthira Garna yang  paling diingatnya dari seminar itu.  Pakar antropologi-sosiologi dari FISIP Unpad itu menegaskan, KKNM tidak boleh merusak tatanan masyarakat yang sudah ada.

“Kita harus memformat ulang kegiatan KKNM ini. Jangan sampai KKNM ini identik dengan kegiatan mencari proyek desa atau bahkan layaknya jadi sinterklas baru seperti program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak jelas pencapaiannya,” tegas Ganjar.

Dalam lokakarya yang dihadiri Ketua Badan Pusat Statistik Provinsi Jabar, Lukman Ismail, perwakilan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Provinsi Jabar, perwakilan Badan Perencana Pembangunan Daerah Jabar, dan Tim Pendamping LPPM dan Divisi KKNM Unpad itu, Rektor Unpad mengimbau agar KKN kali ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Lokakarya KKN itu pun bukan lokakarya yang pertama kali digelar LPPM Unpad sejak Ganjar duduk sebagai Rektor. Pada akhir tahun 2007  Rektor pernah membuka forum dialog konstruktif, khusus membicarakan masalah KKN yang dihadiri oleh para pemimpin semua fakultas, dosen-dosen pembimbing lapangan, perwakilan mahasiswa peserta KKN,      serta narasumber (dosen) dari 

LPPM UGM Yogyakarta yang diminta untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam pelaksanaan KKNM.

Demikian pula pada akhir tahun lalu, Lokakarya bertajuk “Revitalisasi Integrasi KKNM-PKM (Program Pengabdian Masyarakat)” digelar untuk menyusun dan menetapkan Standard Operational Procedure (SOP) KKNM-PKM terpadu yang mulai diterapkan pada Juli-Agustus 2009.

       Menurut Ganjar, ada beberapa hal yang perlu diformat ulang dalam kegiatan KKN yang notabene telah berlangsung selama lima dekade ini. Perubahan demi perubahan lazim dilakukan, sesuai dengan kemajuan zaman dan kebutuhan berbagai pihak. Bukan mahasiswa saja yang berperan aktif, melainkan kita juga bisa meningkatkan partisipasi masyarakat setempat. Ada baiknya pihak Unpad  dapat bekerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti BPS, BKKBN, Bappeda, dan lain-lain. Berdasarkan data-data  dari lembaga-lembaga tersebut, mahasiswa dapat belajar mengumpulkan, mengidentifikasi, dan memilih strategi pemecahan masalah sekaligus pendekatan dengan masyarakat.

       Dalam makalahnya yang berjudul,  “KKN(M) Mau ke Mana?”, Rektor menyatakan, Unpad harus mulai berpikir pragmatis  KKN dengan cara yang lain. Dalam waktu singkat, hanya 37 hari, mahasiswa  tidak mungkin dibebani dengan program yang muluk-muluk.

“Jangan mahasiswa dibebani, cukup diarahkan untuk memahami realitasnya saja. Untuk memahami  masalah di masyarakat  saja ‘kan sulit, bagaimana cara memahami itu, bagaimana teknik mengumpulkan data yang baik, “ sambung Ganjar.

       Menurut Rektor, selama ini pemerintah dan masyarakat terpaku pada angka-angka statistik tentang jumlah kelahiran, kematian bayi, angka kekurangan gizi, tanpa mengetahui kondisi nyata di lapangan. “Bayi siapa yang mati, di mana dan mengapa, kita ‘kan tidak tahu. Oleh karena itu, mahasiswa yang tiga ribu lebih ini, coba kita turunkan untuk mengkaji wilayah yang bersifat mikro untuk memahami masalah yang bersifat makro,” ujar Rektor.

       Demikian halnya dengan bidang pendidikan. Selama ini pemerintah hanya memiliki data lama pendidikan dan angka  drop out tanpa didudukkan dalam kerangka “mengapa”. “Jadi mahasiswa  cukup di sana, memahami masalah, belajar strategi memecahkan masalah,  bersama-sama masyarakat, setelah itu data itu kita kumpulkan, kita olah sebagai data awal. Data itu dikumpulkan untuk basis data. Sebisa mungkin data yang dihasilkan mahasiswa itu menjadi masukan bagi pemerintah, bagaimana treatment atau pendekatan dan penanganannya,” papar Ganjar panjang-lebar.

Pakar Sosek dan sosiologi pertanian itu juga menyinggung berbagai pertimbangan  sosiologis mengenai “pendekatan  partisipatif dalam pembangunan” yang tidak mungkin dilaksanakan dalam jangka sebulan.

Non sense.  Paritisipatif itu harus mengumpulkan orang, ada penelusuran. Untuk memahami masyarakat saja, sering terjadi bias di sana sini,  bias hujan, bias jalan raya.“ Meski demikian, Rektor berjanji, penempatan lokasi KKNM kali ini memungkinkan mahasiswa memahami masyarakat jauh ke pelosok.

Dia juga menghimbau pihak-pihak lain di luar Unpad  yang diundang dalam lokakarnya itu, misalnya BKKBN dan BPS, dapat bersama-sama Unpad membuat instrumen pemetaan sosial yang tepat, serta mampu manfaatkan data pemetaan sosial  yang dikumpulkan oleh mahasiswa,  untuk  kepentingan masyarakat .

Rektor juga mengingatkan Ketua LPPM dan jajarannya di Divisi KKNM untuk mengingatkan mahasiswa sejak pertama kali datang ke lokasi, agar menyampaikan pesan kepada aparat dan warga masyarakat desa masing-masing, bahwa tujuan KKNM  untuk belajar bersama masyarkat.

“Mahasiswa itu  kelompok dewasa muda,  tidak ada lagi acara sebar proposal mencari sponsor kegiatan Agustusan, karena itu membuat mahasiswa harus meninggalkan desa  hingga lebih dari dua minggu di masa KKNM dan  mengurangi  waktu mahasiswa di desa,“ tegas Rektor.

       Senada dengan Rektor, Ketua LPPM Unpad, Prof. Dr. Oekan S. Abdoellah  dalam forum itu menyatakan, tema KKNM-PPMD kali ini adalah “Belajar Bersama Masyarakat melalui KKN Integratif”. Pakar antropologi-sosiologi dari FISIP Unpad itu berharap, KKN ini menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat. Mereka akan tinggal bersama dalam satu desa dan berusaha mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi dalam desa tertentu. Bersama dengan masyarakat desa tersebut, mahasiswa dan dosen berproses bersama untuk mencari jalan ke luarnya. Diharapkannya agar mahasiswa yang berasal dari multidisiplin ini bisa bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang ada.

       Koordinator Tim Pendamping Bidang PKM LPPM Unpad, Dr. Iwan Setiawan pada lokakarya itu menjelaskan, KKNM-PPMD integratif ini merupakan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa bersama dosen serta melibatkan masyarakat secara partisipatif dengan dukungan dari pemerintah daerah dan institusi lainnya. Melalui kegiatan tersebut, semua pihak dapat belajar bersama serta membantu masyarakat dalam mengenali dan memecahkan berbagai permasalahan. Selain itu para peserta juga membantu pemerintah daerah memetakan berbagai permasalahan yang ada pada lokasi KKNM-PPMD tersebut, katanya.

KKNM-PPMD ini dilaksanakan selama 37 hari pada Juli-Agustus 2009 yang diikuti 3.278 mahasiswa program S-1 reguler, nonreguler, dan kelas Ekstensi (sore) angkatan 2005-2008. Mahasiswa tersebut disebar di tujuh Kabupaten di Jabar bagian Selatan, yang tersebar di 27 Kecamatan, 116 Desa. Wilayahnya meliputi Kabupaten-kabupaten Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Ciamis, Garut dan Sumedang. Tiap desa  ditempati 30 mahasiswa dari berbagai fakultas. Mereka disebar ke empat-delapan dusun. Di tiap desa ditempatkan seorang dosen pembimbing lapangan. 

Semoga hasil KKNM-PPMD gaya baru ini lebih baik daripada hasil KKN-KKN konvensional lalu! *** Yesi Yulianti & Purwaningtyas Permata Sari yessi_yulianti@yahoo.com &els_potter@yahoo.co.id


Artikel terkait