October 27, 2009

PERAN LEM FIBRIN OTOLOGUS TERHADAP PERCEPATAN WAKTU PENEMPELAN TANDUR KONJUNGTIVA BULBI MELALUI EKSPRESI Fibronektin-Integrin PADA MATA KELINCI

Sutarya Enus, Ani Melani M,. Nadjwa Zamalek Dalimoenthe

(Dikti Depdiknas 2009-Hibah Bersaing)

 

Lem fibrin otologus (LFO) sudah teruji pada transplantasi konjungtiva bulbi mata kelinci lebih efektif dibandingkan jahitan dari segi waktu penempelan jaringan serta penyembuhan luka yang lebih cepat dan lebih adekuat, terdapat kesesuaian dengan penelitian lem fibrin komersial namun mempunyai kelebihan karena dapat terhindar dari reaksi otoimun dan transmisi penyakit. Untuk menunjang uji klinis pada manusia diperlukan penelitian yang  lebih rinci tentang mekanisme kerja LFO dalam tingkat biologi molekuler.  Penempelan dan penyembuhan jaringan diperlukan interaksi protein adhesi fibronektin (FN) dan integrin yang akan mengaktivasi signal transduction pathway intraselular, meregulasi faktor transkripsi dan mengubah ekspresi gen.  Penilaian kedua protein adhesi tersebut dapat dideteksi secara dini dari kekuatan ekspresi gen dalam tingkat mRNA melalui pemeriksaan RT-PCR dan elektroforesis cDNA.  Tujuan penelitian adalah untuk meneliti perbedaan kekuatan ekspresi gen (mRNA) FN dan integrin α5 pada tandur konjungtiva bulbi antara teknik LFO dan teknik jahitan pada mata kelinci. Dilakukan animal experimental study pada 24 mata (12 kelinci) di Laboratorium Sentral Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dari bulan Mei–Oktober 2008,  terbagi kelompok teknik LFO delapan mata, teknik jahitan delapan mata, sebagai kontrol positif delapan mata.  Pengambilan sampel jaringan dilakukan satu hari pascabedah, dilakukan isolasi RNA, RT-PCR dan elektroforesis cDNA untuk menilai kekuatan ekspresi gen FN dan integrin α5 dengan penilaian dalam skala ordinal.  Analisis data dilakukan secara statistik dengan Mann-Whitney test for small sample. Hasil penelitian secara analisis statistik memperlihatkan ekspresi gen (mRNA) FN secara bermakna lebih kuat pada teknik LFO dibandingkan teknik jahitan (p=0,014), teknik LFO terekspresi kuat 63%, dan teknik jahitan terekspresi kuat 0%.  Tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi gen α5 antara teknik LFO dan teknik jahitan (p=0,253), teknik LFO terekspresi sedang 50%, teknik jahitan 25%. Sebagai kesimpulan, ekspresi gen fibonektin lebih kuat pada teknik LFO dibandingkan jahitan, sedangkan ekspresi gen integrin α5 tidak terdapat perbedaan bermakna antara teknik LFO dan teknik jahitan, namun terdapat kecenderungan teknik LFO terekspresi lebih kuat.

Kata kunci: lem fibrin otologus, fibronektin, integrin α5, RT-PCR, cDNA

Artikel terkait