November 28, 2019

Pengetahuan Masyarakat Mengenai Kaki Pengkor pada Anak

Menurut WHO (2015), lebih dari 8 juta bayi di seluruh dunia setiap tahunnya lahir dengan kelainan bawaan. Salah satunya yakni penyakit clubfoot atau yang sering disebut dengan penyakit kaki pengkor. Penyakit tersebut merupakan kasus penyakit kelainan bawaan yang paling banyak terjadi di Indonesia.  Menurut survei sentinel kelainan bawaan pada september 2014-Maret 2018, dari sekian banyak jumlah kelainan bawaan yang terdapat pada bayi, penyakit kaki Clubfoot atau Conginetal Talipes Equinovarus atau kaki pengkor menempati urutan teratas dengan presentase 21,9%.

Pada anak yang mengalami penyakit ini, terjadi kekakuan otot pada bagian dalam kaki sehingga otot kaki (tendon) menjadi lebih pendek dan tertarik ke arah dalam sehingga menyebabkan anak sulit berjalan.  Selain itu, kedua tumitnya saling mendekat sedangkan kedua lututnya saling menjauh (seperti membentuk huruf O).

Pada dasarnya, pecegahan penyakit ini sangat sulit dilakukan karena faktor genetik yang ada pada ibu dan anak dalam kandungan sangat dominan—sehingga sulit dirubah. Meski penyakit ini bukan termasuk penyakit yang mematikan, akan tetapi, peran orang tua yang aktif sangatlah diperlukan dalam mendeteksi penyakit pada anak secara dini. Hal itu perlu dilakukan karena semakin dini deteksi yang dilakukan, maka semakin mudah anak tersebut meraih kesembuhan yang optimal. 

Penyakit kaki bengkok (clubfoot) ini pun bukan lagi baru terjadi di kalangan masyarakat Indonesia. Penyakit ini sudah banyak terjadi dan sudah banyak tindakan medis yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan penderita. Akan tetapi, meski sudah memiliki insidensi yang

cukup tinggi pada beberapa kasus kelahiran, tak dapat dipungkiri masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dengan baik penyakit ini sehingga penyakit ini masih cukup sulit dideteksi sebagian orang.  Maka dari itu, diperlukan wawasan dan pengetahuan yang cukup oleh masyarakat agar setidaknya dapat mengetahui langkah yang harus dilakukan apabila dihadapkan pada penyakit tersebut. Adapun kurangnya pengetahuan ini seringkali berimbas pada tidak diobatinya penyakit sehingga menjadi semakin parah.

Dalam hal ini, masih banyak daerah-daerah di dunia ini yang warganya belum memiliki pengetahuan dan wawasan cukup mengenai penyakit kaki pengkor pada anak ini. Salah satunya ialah di Indonesia, khususnya kota Bandung, Jawa Barat.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka Dr. Yoyos Dias Ismiarto, dr., Sp.OT(K)., M.Kes., CCD telah melakukan penelitian yang berjudul Congenital Idiopathic Talipes Equinovarus : Evaluasi pada Bayi yang Diterapi dengan Metode Ponseti dan Hubungannya dengan Tingkat Pengetahuan Orang Tua. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dan analitik. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Bandung. Persiapan penelitian dilakukan bulan Juni – Juli 2019 sedangkan pengambilan data penelitian dilakukan pada 26 Juli 2019 kemudian analisa hasil data dilakukan pada bulan Oktober – November 2019.

Selain itu, mahasiswa KKN juga turut serta dalam membantu mengedukasi warga serta menambah wawasan dan pengetahuan mereka tentang penyakit kaki bengkok ini melalui penyuluhan dengan topik “Penyuluhan Kaki Pengkor Pada Anak”.

Tujuan dari kegiatan penyuluhan ini ialah untuk merubah pola pikir, kebiasaan dan perilaku masyarakat, khususnya orang tua dengan anak pengindap penyakit ini. Dengan dilakukannya penyuluhan sedemikian rupa, kami ingin meghasilkan perubahan pada mereka. Caranya yakni dengan mengedukasi dan mempersuasi pola pikir, cara pandang dan perilaku mereka—dari yang belum sadar dan tergerak untuk melakukan pengobatan terhadap penyakit ini hingga mulai tergerak untuk berobat. Melalui penyuluhan ini, tim ingin menekankan bahwa penyakit kaki pengkor bukanlah penyakit yang tak dapat disembuhkan.

Tak hanya pada orang tua yang memiliki anak pengidap kaki pengkor, tim juga ingin mengedukasi para warga, khususnya orang tua atau ibu hamil tentang penyakit ini, agar mereka lebih waspada dan lebih sigap apalagi menemui penyakit ini di kemudian hari.

Sebanyak 60 pasien clubfeet diterapi dengan metode Ponseti selama periode Januari 2019  hingga Juli 2019 di Klinik Ortopedi, RSHS. Semua anak dengan CTEV sekunder dieksklusi. Ada beberapa parameter yang digunakan dalam evauasi dari bagian orthopaedi dan traumatologi, yaitu berat badan lahir rata-rata Usia kehamilan, riwayat kelahiran, riwayat keluarga positif CTEV, kelainan bilateral dan kelaianan unilateral dicatat. Usia saat memulaipengobatan dicatat, keparahan deformitas.

Hasil kegiatan penyuluhan adalah meningkatnya pengetahuan masyarakat di Kelurahan Kujangsari mengenai penyakit kaki pengkor pada anak. Meningkatnya pengetahuan masyarakat mampu mencegah keterlambatan dalam penanganan penyakit kaki pengkor. Dari pretest yang dilakukan, didapat hasil yakni: Dari total 39 partisipan (warga yang mengikuti penyuluhan), terdapat 11 orang warga yang mengetahui penyakit kaki pengkor. Meski begitu, setelah dikumpulkan, ternyata terdapat 3 pretest yang tidak valid karena terdapat beberapa pertanyaan yang tidak terisi. Hal ini membuat partisipan menjadi 36 orang—sehingga presentase warga yang tidak mengetahui penyakit ini menjadi 70% dan yang mengetahui sebanyak 30%).  Hal ini menunjukkan bahwa hanya ada beberapa partisipan saja yang paham mengenai penyakit kaki pengkor. Kemudian, intervensi dilakukan berupa penyuluhan berupa presentasi interaktif menggunakan media powerpoint.

Artikel terkait