October 30, 2009

Pengembangan Sirih Merah (Piper crocatum) Sebagai Herbal Terstandar Untuk Mengatasi Keputihan Terhadap Trichomonas vaginalis

Sri Agung Fitri Kusuma, M.Si Ellin Febrina, M.Si., Apt. Ami Tjitraresmi, S.Si., M.Si., Apt. Fakultas: FARMASI Sumberdana: STRATEGIS NASIONAL Tahun: 2009 Abstrak: Sirih merah (Piper crocatum) adalah salah satu tanaman yang secara empiris banyak digunakan untuk mengobati keputihan. Salah satu penyebab keputihan yang banyak ditularkan melalui hubungan seks adalah Trichomonas vaginalis . Pada penelitian ini telah dilakukan karakterisasi simplisia sirih merah, skrining fitokimia, penetapan standar ekstrak sirih merah, uji aktivitas antitrichomonas vaginalis, penetapan konsentrasi hambat minimum, uji toksisitas akut dan subkronik serta formulasi tablet ekstrak sirih merah. Berdasarkan hasil skrining fitokimia, simplisia daun sirih merah mengandung alkaloid, polifenolat, tannin, flavonoid, kuinon, steroid, monoterpenoid, seskuiterpenoid dan saponin. Penetapan standar ekstrak sirih merah mempunyai nilai susut pengeringan (30,83%), kadar abu (10,05%), kadar abu tidak larut asam (2,49%), kadar sari larut air (35,09%), kadar sari larut etanol (44,30%), berat jenis ekstrak (1,15%) dan kadar air (14,92 %). Pengujian aktivitas antitrichomonas ekstrak etanol daun sirih merah menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak yang digunakan maka semakin banyak jumlah sel T. vaginalis yang mati. Kematian sel T. vaginalis tersebut ditandai dengan tidak adanya pergerakan dari sel tersebut. Konsentrasi hambat minimum ekstrak sirih merah terhadap T. vaginalis terletak antara 2,5-5%. Uji toksisitas akut terhadap mencit betina dengan berat badan antara 20-30 g dan berumur 2-3 bulan menunjukkan bahwa ekstrak sirih merah pada dosis 5 g/ kg BB menyebabkan mortalitas mencit sebesar 50 %. Hasil uji skrining farmakologi menunjukkan bahwa pada dosis jauh di atas LD50 dapat mempengaruhi aktivitas sistem saraf pusat. Uji toksisitas subkronik ekstrak sirih merah pada tikus betina galur Wistar dengan dosis ekstrak 500mg/kg BB dalam suspensi PGA 10% meliputi beberapa pemeriksaan seperti pengamatan bobot badan tikus, biokima darah, parameter darah, parameter urin, indeks tukak mukosa pada lambung, dan beberapa pemeriksaan indeks organ tikus meliputi otak, jantung, paru-paru, hati, ginjal, limfa dan ovarium serta pemeriksaan histopatologi organ-organ tersebut. Hasil pengamatan biokimia darah menunjukkan bahwa kadar SGOT dan SGPT kelompok uji lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol sedangkan pada pemeriksaan fungsi organ ginjal, kadar kreatinin kelompok uji mengalami peningkatan namun tidak terjadi perbedaan yang bermakna dibandingkan kelompok kontrol. Pemeriksaan parameter darah yang mencakup kadar eritrosit, leukosit, hematokrit, hemoglobin, dan trombosit menunjukkan bahwa kadar parameter-parameter tersebut masih berada pada rentang normal. Pemeriksaan parameter urin yang meliputi bobot jenis dan pH urin menunjukkan bahwa perbedaan bobot jenis dan pH urin kelompok uji tidak memberikan perbedaan yang bermakna dibandingkan kelompok kontrol. Hasil pemeriksaan indeks mukosa tukak lambung pada tikus uji menunjukan bahwa ekstrak etanol daun sirih merah tidak menimbulkan kerusakan organ lambung. Pemeriksaan indeks organ meliputi otak, jantung, paru-paru, hati, ginjal, limfa dan ovarium tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dibandingkan kelompok kontrol. Pemeriksaan histopatologi organ otak, jantung, dan ginjal menunjukkan kondisi normal pada seluruh kelompok tikus uji. Pada pemeriksaan organ hati, limpa dan ovarium, salah satu tikus uji dari tiga tikus uji menunjukkan hasil yang tidak normal. Hasil pemeriksaan evaluasi massa cetak tablet dan tablet dengan zat aktif ekstrak sirih merah menggunakan metode kempa langsung menunjukkan bahwa tablet ekstrak sirih merah telah memenuhi persyaratan tablet yang baik Kata kunci: Sirih merah, keputihan, Trichomonas vaginalis, ui toksisitas

Artikel terkait