October 30, 2009

Pengembangan Produk Fitofarmaka Anti Batu Ginjal Dari Kombinasi Tanaman Seledri (Apium Graveolens L) Sambiloto (Andrographis Paniculata Ness)

Drs. Boesro Soebagio, MS. Taofik Rusdiana, S.Si.,M.Si., Apt., Drs. Sohadi Warya, MS., Apt Fakultas: FARMASI Sumberdana: STRATEGIS NASIONAL Tahun: 2009 Abstrak: Pencarian alternatif pengobatan ilmiah, alamiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara klinis masih terus dikembangkan oleh berbagai pihak. Salah satu alternatifnya adalah melalui pengobatan dengan obat herbal terstandar. Penelitian terhadap ekstrak dari tanaman seledri (Apium graveolens L.) dan sambiloto (Andrographis paniculata NESS) dalam hal ini dilakukan sebagai upaya mencari alternatif pengobatan batu ginjal. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah standarisasi ekstrak kedua tanaman, pengujian preklinis baik in vitro maupun in vivo (tikus), dan pengujian toksisitas akut. Kemudian setelah pengujian preklinis di atas sudah sesuai dengan harapan, kemudian dibuat campuran ekstrak formulasi sediaan farmasi yaitu sediaan suspensi. Tahap kedua adalah tahap pengujian toksisitas subkronik dan membuat formulasi ekstrak menjadi sediaan tablet. Pada tahap kedua dilakukan pengujian toksisitas subkronis kombinasi ekstrak sambiloto dan ekstrak seledri pada tikus galur Wistar, dengan tujuan untuk mengetahui segala perubahan yang terjadi pada parameter urin dan darah, indeks serta fungsi dan histopatologi organ hati dan ginjal hewan uji setelah penggunaan kombinasi ekstrak tersebut dalam jangka waktu yang lama. Uji coba kombinasi ekstrak sambiloto dan seledri yang diberikan pada dosis 1000 mg/kg BB dan 200 mg/kg BB secara oral sekali sehari selama 90 hari dilakukan pada hewan uji. Secara umum, hasil penelitian tidak menimbulkan efek toksik yang berarti. Secara statistik, hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok uji memberikan perbedaan bermakna (? = 0,05) dibandingkan kelompok kontrol tetapi masih dalam batas normal, masing-masing pada parameter urin berupa penurunan pH urin kelompok tikus jantan; pada indeks organ berupa kenaikan indeks organ hati dan ginjal kelompok tikus betina; pada parameter darah berupa kenaikan jumlah eritrosit, nilai hematokrit, dan kadar hemoglobin kelompok tikus jantan serta kenaikan kadar hemoglobin pada kelompok tikus betina; pada biokimia darah berupa kenaikan kadar SGOT dan SGPT kelompok tikus betina. Pemeriksaan histopatologi organ jantan maupun betina menunjukkan adanya perubahan ke arah kerusakan ringan pada organ hati, yaitu terjadi steatosis, sinusoid rusak, hepatosit tidak beraturan, inti sel piknotis, dan sel Kupffer bertambah banyak. Penyempitan vena sentralis hanya terjadi pada kelompok tikus betina. Begitu juga pada pemeriksaan histopatologi organ ginjal menunjukkan adanya perubahan ke arah kerusakan ringan, berupa pembesaran glomerulus dan penyempitan ruang Bowman. Pada penelitian ini telah dibuat tiga formula dengan berat tablet 675 mg dengan perbedaan variasi konsentrasi pengisi Avicel PH101 terhadap Amprotab yaitu 3:1, 2:2, dan 1:3 menggunakan metode granulasi basah. Hasil penelitian menunjukkan ketiga variasi konsentrasi pengisi menunjukkan hasil yang memenuhi persyaratan kualitas tablet. Diketahui pula dengan jumlah pengisi 42,61% semakin besar perbandingan konsentrasi Avicel PH101 terhadap Amprotab maka tablet yang dihasilkan akan memiliki presentase friabilitas yang semakin baik serta waktu hancur yang semakin lama. Formula A dengan konsentrasi Avicel PH101 berbanding Amprotab sama dengan tiga banding satu memberikan nilai friabilitas terbaik yaitu 0,071% dan waktu hancur terlama yaitu 417 detik, sedangkan formula C dengan konsentrasi Avicel PH101 berbanding Amprotab sama dengan satu banding tiga memberikan nilai friabilitas terburuk yaitu 0,49% dan waktu hancur tercepat yaitu 104 detik. Berdasarkan hasil KLT dapat disimpulkan zat berkhasiat ekstrak masih terdapat dalam sediaan tablet setelah melalui tahapan formulasi. Hasil pengujian aktivitas peluruh batu ginjal secara in vitro menunjukkan bahwa campuran ekstrak dalam tablet mengalami penurunan aktivitas yang signifikan terhadap kelarutan batu kalsium, sedangkan kelarutan pada batu magnesium tidak mengalami penurunan yang signifikan. Kata kunci:

Artikel terkait