November 1, 2009

Pengembangan Likhen Jenggot KAI (Usnea spp) Sebagai Antidermatofita

Iin Supartinah Noer, Dra., MS. Betty Mayawatie, Dra. Rani Restu Irianti, S.Si. Fakultas: MIPA Sumberdana: STRATEGIS NASIONAL Tahun: 2009 Abstrak: Penelitian likhen jenggot kai (Usnea spp.) di Priangan telah dilakukan melalui kajian taksonomi dan keanekaan, analisis fitokimia dan mikrokristal, pengujian toksisitas akut dan daya antifungal ekstrak Usnea baileyi (Stirt.) Zahlbr. terhadap jamur penyebab penyakit dermatofitosis. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah sigi dan eksperimental. Sigi (Usnea) dilakukan di Hutan Pinus Jayagiri, kaki Gunung Tangkuban Perahu (Bandung); Hutan Pinus Kamojang (Garut); Hutan Pinus Rancakalong (Sumedang); Hutan Pinus Munjul, kaki Gunung Sawal (Ciamis) dan Hutan Pinus Cigorowong, kaki Gunung Galunggung (Tasikmalaya) untuk kajian taksonomi dan pengambilan sampel. Eksperimental di Laboratorium dilakukan untuk pengujian toksisitas akut dan daya antifungal Usnea baileyi. Pengujian toksisitas akut (Usnea baileyi) dilakukan terhadap mencit (Mus musculus, L.) Swiss Webster menggunakan Rancangan Acak Lengkap memakai dosis 100 mg/kg bb, 316 mg/kg bb, 1.000 mg/kg bb, 3.162 mg/kg bb dan 10.000 mg/kg bb, serta diulang 5 kali. Parameter yang diamati gejala klinis, LD50 dan pemeriksaan histopatologik hati dan ginjal. Pengamatan efek toksik dilakukan selama 14 hari. Pengujian daya antifungal dilakukan terhadap jamur Tricophyton mentagrophytes, Microsporum canis, Microsporum gypseum dan Epidermophyton floccosu, menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 4 x 17, dengan 3 ulangan dan metode difusi agar cakram kertas Kirby-Bauer. Parameter yang diamati adalah zona hambat pertumbuhan jamur disekeliling kertas cakram. Hasil sigi dan determinasi didapatkan jenis Usnea yang terdapat tumbuh di hutan pinus di Wilayah Priangan, yaitu Usnea baileyi, U. barbata, U.cornuta, Ufilipendula, U.flexilis, U.flexuosa, U.florida, U.glabrata, U.hirta, U.longissima dan U.trichodea. Usnea baileyi dan Usnea flexilis merupakan jenis yang diketemukan di seluruh hutan Pinus di wilayah Priangan. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa jenggot kai mengandung beberapa golongan metabolit sekunder seperti alkaloid, polifenol, monoterpenoid, seskuiterpenoid, steroid, kuinon, dan saponin. Asam likhenat yang terkandung dalam jenggot kai adalah asam barbata, asam divaricatic, asam perlotic, asam protocetratic, asam alectororic, asam atranorin, asam usnat, asam gyrophoric, asam norstictic dan asam salazinic. Asam usnat merupakan asam likhenat yang umum dikandung oleh jenggot kai di Priangan dan asam likhenat yang jarang ditemukan adalah asam protocetraric. Hasil uji toksisitas menunjukkan U. baileyi termasuk dalam kategori toksik sedang. Efek toksik yang ditimbulkan pemberian dosis 3.162mg/ KgBB berupa kematian 80 % mencit uji, setelah 4 jam perlakuan . Pemakaian dosis tinggi menyebabkan penurunan aktivitas motorik, hilangnya refleks pineal, sikap tubuh menjadi tidak normal, penurunan kemampuan menggelantung dan retablismen, hilangnya refleks fleksi dan hafner, adanya ptosis, tidak adanya refleksi pineal, tidak ada fleksi, tidak ada haffner, writhing dan mortalitas tinggi. Kadar 316 mg/kg bb menyebabkan nekrosis sel dan dosis 1.000 mg/ kg bb menimbulkan perubahan pada susunan sel, inti sel yang mengalami nekrosis. dosis 3.162 mg / kg bb menyebabkan vena sentralisnya menyempit, susunan sel tidak teratur, sinusoid tidak utuh dan terjadi nekrosis pada inti sel. Dosis 10.000 mg/kg bb.menimbulkan kerusakan terparah terjadi penyempitan Vena sentralis, ketidak aturan susunan sel, sinusoid tidak utuh dan nekrosis inti sel. Pemberian ekstrak U. baileyi dengan dosis 316 mg/kg bb dan 1.000 mg/kg bb menyebabkan penyempitan ruang bowman. Pemakaian ekstrak Usnea dengan dosis 3.162 mg/kg bb dan 10.000 mg/ kg bb pada mencit menyebabkan kapsula bowman menjadi tidak jelas, glomerulus membesar, ruang bowman menjadi sempit dan terjadi kematian inti sel tubuli. Ekstrak kasar jenggot kai menunjukan bioaktivitas antijamur. Konsentrasi 80 % menghasilkan diameter zona hambat jamur terluas, yaitu dengan luas 19 mm untuk T. mentagrophytes; 37.33 mm untuk M. canis; 31.5 mm untuk M gypseum dan 62 mm untuk E. floccosum. Bioaktivitas paling kuat menghambat pertumbuhan E. floccosum dan aktivitas paling lemah pada T. mentagrophytes Kata kunci: Usnea, toksisitas akut, Usnea baileyi, hati, ginjal, mencit, antijamur, jamur dermatofita, metabolit sekunder

Artikel terkait