November 20, 2009

Mimpi Unpad, Menjadi Universitas Kelas Dunia

Pidato Rektor Unpad, Prof. Dr. Ganjar Kurnia menjadi perhatian utama para undangan dalam acara perayaan ulang tahun ke-52 Unpad pada Jumat pagi, 11 September lalu. “Dies Natalis bermakna perenungan diri, tentang siapa kita, apa tugas dan fungsi kita, sejauh mana kinerja kita selama ini, dan mau ke mana kita bawa Unpad ini ke depan,” katanya.

Seperti biasa dalam pidato tahunan Rektor, Ganjar Kurnia melaporkan beberapa hal yang telah dilakukan oleh Unpad dalam setahun terakhir. Penataan sistem registrasi dengan berbasis teknologi informasi dikatakan sebagai salah satu kemajuan. Namun, Ganjar juga mengatakan penataan ini masih dalam tahap pembenahan.

 Bidang Akademik

Di bidang akademik Unpad sedang mengajukan izin kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) agar status 55 konsentrasi dinaikkan menjadi program studi (prodi). Selain itu dilakukan pula pengintegrasian pendidikan program pascasarjana ke fakultas karena banyak aktivitas akademis dilakukan di fakultas.

Pada  tahun akademik 2008/2009, lulusan Unpad mencapai 10.422 orang, dengan komposisi 223 doktor (strata 3), 1.129 magister (strata 2), 142 spesialis, 851 profesi, 5.536 sarjana (strata 1), dan 2.511 ahli madya (strata 0). Dibanding dengan tahun 2008, jumlah wisudawan tahun ini menurun. Hal ini terjadi karena penerimaan mahasiswa diploma  yang memang sudah dikurangi jumlahnya. IPK rata-rata lulusan adalah 3,2. Sebanyak 76 % wisudawan program S1 lulus dalam kurang dari 8 semester.

Dilihat dari sisi prestasi,  Program Kerja Mahasiswa (PKM) Unpad belum cukup membanggakan. Namun, dari segi kuantitas jumlah peserta PKM meningkat pesat. Pada 2007 ada 99 proposal, pada 2008 ada 196 proposal, sekarang sudah mencapai 314 proposal. Dari jumlah tersebut, 140 mendapat bantuan biaya dari Ditjen Dikti, lima kelompok masuk final namun tidak satupun yang menang (juara).

Metode pembelajaran di Unpad kini didorong lebih keras lagi ke arah Student Centered Learning (SCL). Untuk mendukung hal tersebut, Unpad akan memberikan insentif inovasi pembelajaran, penyelenggaraan pelatihan, dan sosialisasi SCL.

Tentang peningkatan kualitas dosen, Ganjar mengungkapkan, pada tahun 2009 sebanyak 29 dosen melanjutkan studi S2 dan S3 ke berbagai perguruan tinggi mancanegara melalui berbagai sumber beasiswa. “Untuk studi lanjut dosen, Unpad menyediakan beasiswa Rp 875 juta untuk 149 dosen yang terdiri dari 90 dosen program S3 dan 59 dosen program S2,” kata Ganjar.

 

Penghargaan

Tahun ini tiga warga Unpad mendapat penghargaan dari lembaga atau perguruan tinggi di luar negeri.  Prof. Dr. Mieke Komar (dosen Fakultas Hukum) memperoleh  kehormatan sebagai “Distinguish Global Alumnus Award” dari SMU Deadman School of Law, Dallas, AS. Prof. Dr.  Deddy Mulyana (Dekan baru Fikom) memperoleh “Australian Alumni Award” dari Monash University, Australia. Prof. Dr. Faisal Afif (dosen Fakultas Ekonomi)  meraih “Honorific Decoration Officier de Orare de la Couronne” dari pemerintah Belgia.

Berbagai perlombaan di tingkat internasional juga membawa hasil. Erie Febrian, MBA, M.Com. dan Aldrin Herwany, MM, dosen Fakultas Ekonomi, berhasil meraih “The Most Outstanding Research Award” pada The 2009 Global Conference in Business & Finance di New Jersey, AS.  Prof. Dr. Johan S.Masjhur dari Fakultas Kedokteran meraih penghargaan”The Outstanding Contribution to the Development of Nuclear Medicine in Indonesia” dalam The World Radiopharmaceutical Therapy Council di Ulanbator, Mongolia. Tim Mahasiswa Fakultas Hukum meraih second Best Memorials dan second Runner-Up dalam Eighth National Round of Philip C. Jessup International Law Court Competition 2009.

Keberhasilan kinerja juga terlihat dari jumlah paten dan HaKI yang dihasilkan. Pada tahun akademik  2008/2009 Prof. Dr. Nurhalim Shahib (dosen FK) berhasil memperoleh hak paten untuk “Komposisi Ekstrak Kering Carica Papaya Linn” untuk antidemam berdarah. Selain itu pada tahun ini sebanyak 37 usulan HaKI dan 12 usulan paten sedang diajukan.

Pada acara Dies Natalis ini pun diberikan penghargaan “Anugerah Padjadjaran Utama” kepada Prof. Dr. Priyatna Abdurrasyid (FH), “Satya Karya Bhakti Padjadjaran” kepada Prof. Dr. Himendra Wargahadibrata (FK, mantan Rektor), Prof. Dr. Faisal Afiff (FE), Prof. Dr. Mieke Komar (FH), dan Prof. Dr. Deddy Mulyana (Fikom).

Penghargaan “Satya Karya Bhakti Mahaguru” diberikan kepada Prof. Dr. Kusdwiratri Setiono (Fakultas Psikologi), Prof. Faisal Afiff, dan Prof. Dr. Udju D. Rusdi. Penghargaan “Satya Karya Adisiswa Padjadjaran” kepada mahasiswa Unpad, yaitu Stepi Anriani (FISIP), Tya Arizona (FE), dan Puji Maharani (Fikom).

 

 

Bidang Penelitian

Ganjar mengungkapkan, sebanyak 862 judul penelitian dengan biaya dari berbagai sumber saat ini  dilaksanakan oleh para peneliti Unpad. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah penelitian dosen tahun ini meningkat 34, 27%. Unpad menyerap dana sebesar Rp 13 miliar untuk penelitian tersebut.

Di bidang pengabdian kepada masyarakat, tahun ini Unpad menyediakan Rp 10 juta untuk setiap kegiatan dalam integrasi Program Pengabdian pada Masyarakat dan Dosen (PPMD) dan Kuliah Kerja Nyata Manahsiswa (KKNM). Sayang,  beberapa fakultas jumlah peserta PPMD-nya sangat sedikit, bahkan tidak ada sama sekali.

 

Bidang Administrasi

Sebagai tindak lanjut dari penerapan sistem keuangan Badan Layanan Umum (BLU), Unpad sedang mengaji kembali tentang struktur, organisasi, dan tata kerja lengkap dengan tugas, pokok, dan fungsi (Tupoksi) serta berbagai StandardOperational Procedure (SOP)-nya.

“Jika Unpad ingin menjadi world class university (WCU), benahi dulu SBA di fakultas-fakultas. SBA seringkali mempersulit mahasiswa dan bekerja tidak sesuai dengan jadwal. Pagi-pagi, jam sembilan belum datang, siangnya sudah istirahat, sebelum jam pulang sudah tidak ada lagi,” kata Jan Ramos Pandia, alumni Jurusan Hubungan Internasional, FISIP  (angkatan 2003) yang kini bekerja sebagai Analis di Daya Dimensi Indonesia (DDI) Jakarta.

 

Kesehatan dan Kesejahteraan

Tahun ini Unpad bekerja sama dengan Asuransi Kesehatan melakukan general check-up bagi dosen dan tenaga kependidikan. Sejak 2007 Unpad menyediakan bis (Damri) gratis bagi dosen dan karyawan dengan rute kampus Bandung-Jatinangor. Tahun ini mulai disediakan pula bis gratis untuk rute sebaliknya. Selain itu sejak 1 Desember 2008 Unpad menyediakan pula angkutan (mobil omprengan) gratis di lingkungan kampus Jatinangor bagi dosen, mahasiswa, karyawan, dan lain-lain.

Kepedulian Unpad kepada mahasiswa ditunjukkan melalui program pemberian asuransi bagi yang mengalami kecelakaan yang terjadi di kampus dan yang penyebabnya berkaitan dengan akademik akan ditanggung oleh Unpad. Bahkan yang sampai meninggal dunia disediakan asuransi. “Dulu program ini hanya untuk mahasiswa baru, sekarang program ini berlaku untuk semua mahasiswa Unpad,” ungkap Ganjar.

 

Pembangunan Fisik

Tahun ini mulai dibangun kawasan olahraga seluas 5.000 m2 dan perbaikan stadion di Jatinangor. Pembangunan ini menggunakan dana mandiri sebesar Rp24 M. Dengan dana mandiri pula tahun depan dimulai pembangunan gedung rektorat seluas 12.000m2, gedung Fakultas Farmasi seluas 2.400m2 serta gedung-gedung Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, dan Fakultas Teknik Geologi di Jatinangor.

Ganjar juga melaporkan alokasi anggaran operasional Unpad pada 2009 meningkat 51% dari total anggaran pada 2008. Peningkatan ini selain sebagai sebuah kepercayaan, juga sebagai tantangan bagi Unpad untuk memanfaatkannya dengan baik.

 

Bidang Kemanusiaan

Hingga kini sebanyak 4.771 mahasiswa telah memperoleh beasiswa. Unpad sebenarnya menawarkan  beasiswa bagi 5.200 mahasiswa. Beasiswa ini dinikmati 4.294 mahasiswa program S1 dan 477 mahasiswa D3 dengan total dana sebesar Rp 11,3 M. Pada program S2 dan S3 sebanyak 574 mahasiswa juga menerima beasiswa sebesar Rp 31,4 M. Ada pula 56 mahasiswa baru yang tergolong elit (ekonomi sulit) dibebaskan dari pembiayaan masuk ke universitas.

Pada masa mendatang Unpad menggagas program 1:39 yang didasari ajaran agama Islam. Setiap kali seorang muslim mendapatkan penghasilan, 39 bagiannya untuk kepentingan dunia dan 1 bagian lagi di jalan Allah. Sudah ada 23 mahasiswa mendapat bantuan dari program ini. Semua pihak diajak menyukseskan program ini.

 

World Class University (WCU)

Ganjar juga mengungkapkan salah satu ambisi Unpad yang belum tercapai hingga kini, yakni menjadi world class university (universitas kelas dunia). Ranking Webometrics adalah salah satu tolok ukurnya.  Ganjar mengungkapkan kekecewaannya karena ranking Webometrics Unpad pada enam bulan terakhir ini menurun.

Ganjar merencanakan pencapaian Unpad sebagai WCU pada 2023. “Sekarang kita merencanakan ke sana dan sudah merumuskan target seperti memperbanyak dosen S2 yang belajar ke luar negeri. Dari 130-an yang direncanakan, sebanyak 80-an sudah diberangkatkan,” katanya.

Unpad juga melakukan reorientasi dalam penelitian-penelitian. “Kita ingin penelitian kita berorientasi pada produk, HaKI, dan juga penelitian itu kita harapkan masuk dalam jurnal ilmiah. Selain itu, berapa jumlah alumni yang menduduki jabatan-jabatan tertentu, hadiah nobel yang diperoleh menjadi target ke depan. Namun sekarang kita mau mengarah pada yang gampang dulu,” lanjutnya

 “Syarat minimal WCU, antara lain, 40% tenaga pendidik bergelar Ph.D atau doktor, publikasi internasional 2 papers/dosen/tahun,  jumlah mahasiswa program pascasarjana 40% dari total populasi mahasiswa, anggaran riset minimal US$ 1.300/dosen/tahun, jumlah mahasiswa asing lebih dari 20%, dan alokasi Information Communication Technology (ICT) 10 Kb/mahasiswa. Kriteria di atas bukanlah sesuatu yang sulit untuk dicapai,” kata Gaudensius Suhardi, alumni Jurusan Jurnalistik, Fikom (angkatan 1985), yang  kini menjabat Asisten Kepala Divisi Pemberitaan, Redaksi koran harian Media Indonesia Jakarta.

 Dia mengatakan, Unpad sulit bersaing pada bidang yang sudah dikembangkan oleh orang lain. “Sebaiknya kita mengembangkan hal yang belum berkembang di luar. Contohnya, kalau kita punya Fakultas Sastra Sunda, ini bisa kita kembangkan jadi WCU karena belum ada yang melakukannya. Contoh lain, orientasi kita misalnya tanaman herbal. Korea Selatan bisa mengembangkan ginseng. Mengapa Jabar tidak menjadi pengembang jengkol atau apa saja yang ada dan khas di daerah ini,” ucap Rektor bersemangat  sambil tertawa.

Perjalanan Unpad menjadi WCU harus juga tidak terlepas dari perbaikan internal Unpad seperti sumberdaya manusia. Sandi Prawira, mahasiswa FISIP angkatan 2005 yang sedang mengikuti Rikkyo University International Exchange Student Scholarship di Jepang berkata, “Unpad harus membenahi kualitas dan integritas tenaga pengajar.

Gaudensius juga mengatakan, “Hal yang lebih penting adalah menjunjung tinggi etika akademik dengan mengedepankan nilai-nilai moralitas. Nilai-nilai moralitas itulah yang belum sepenuhnya dikembangkan. Mestinya Unpad berada di garda terdepan menggugat moralitas sekitarnya asalkan dia sendiri sudah melakukan hal itu. Unpad belum sepenuhnya menjadi penjaga moral bangsanya. Setelah 52 tahun, Unpad diharapkan terus berbenah diri agar menjadi perguruan tinggi terbaik di Indonesia sebelum menjadi WCU.”

 Arie Christy Sembiring Meliala  ache_meliala@yahoo.com

Artikel terkait