July 9, 2009

Menyoal Metode Belajar Berbasis Mahasiswa

Apalah arti lulus dari universitas dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi bila tak diimbangi  oleh kualitas lulusan yang tinggi. Tampaknya begitulah hal yang ada di pikiran para petinggi Universitas Padjadjaran (Unpad) dalam menghadapi kualitas lulusan Unpad yang selama ini dirasa masih belum sebanding dengan IPK mereka yang tinggi. Kualitas yang dimaksud di sini berhubungan dengan keteram-pilan mengemukakan pendapat dalam suatu forum diskusi ilmiah.

ruangkelas MM-edit

Atas dasar inilah para pemangku kepentingan Unpad mencoba mengubah metode pembelajaran yang memberikan waktu lebih banyak untuk berdiskusi dan membuat maha-siswa bisa lebih aktif mengungkap-kan pendapat. Dalam dasar-dasar ilmu pedagogik, pembelajaran dengan pendekat-an demikian di-sebut pendekatan student centered learning (SCL). Mereka akhirnya sepakat mewajib-kan penerapan metode pembela-jaran ini di semua fakultas di lingkungan Unpad.

Menurut Pembantu Rektor I Unpad, Prof.Dr. Husein Hernadi Bahti, komitmen bersama tersebut ditetapkan dalam Rencana Strategis Unpad Periode 2007-2012. Unpad dalam hal pembelajaran ingin memberlakukan SCL. Selama ini metode belajar yang berlaku umum adalah metode konvensional, mahasiswa hanya dijejali ilmu pengetahuan oleh dosen. Memang ada sebagian (kecil?) dosen yang sudah rutin melakukan pembelajaran dengan teknik diskusi, seperti dalam metode SCL.

“Kita coba mengimbau atau katakanlah mewajibkan seluruh fakultas, sesuai dengan kemam-puan masing-masing, untuk menerapkan proses pembelajaran SCL ini,” ungkap Husein. Sesuai dengan kemampuan masing-masing artinya sesuai dengan kemampuan tiap fakultas dalam hal menyiapkan fasilitas ruangan, laboratorium, peralatan, dan terutama para dosen.

Dosen Jurusan Kimia, FMIPA Unpad itu menegaskan, metode pembelajaran SCL memang menuntut banyak persyaratan, antara lain harus menyiapkan banyak ruangan, selain koleksi buku perpustakaan yang lengkap. Sayangnya, tidak semua fakultas di Unpad memiliki fasilitas yang demikian. Bahkan beberapa fakultas masih kekurangan dosen. Inilah salah satu faktor utama yang menyebab-kan metode pembelajaran SCL belum bisa sepenuhnya dilakukan di tiap fakultas hingga sekarang. Hingga kini baru Fakultas Kedokter-an (FK) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) yang sudah cukup mapan dengan metode tersebut atau metode yang mirip SCL. Hal ini tentu tak terlepas dari faktor keuangan mereka yang terkenal kuat.

Pembantu Dekan II FK Unpad, Doktor Med. Tri Hanggono Achmad, mengakui, investasi yang dilakukan saat pertama kali mengubah metode pembelajaran memang luar biasa. Ketika itu hampir tiap minggu FK mengadakan workshop dan tutor training bagi seluruh dosen.

”Sosialisasi dilakukan dengan sangat gencar. Luar biasa effort-nya,” katanya.

Menurut Husein, memang sulit memulai metode pembelajaran baru ini. Dosen dituntut untuk bekerja ekstra. Misalnya, kehadiran dosen bertambah karena harus  tutorial.  Sulitnya, di sini  fakultas  harus  menye

diakan kompensasi (berupa uang honorarium – Red.) bagi para dosen. Jika tidak demikian, tentu akan repot. Namun, sekali metode itu dijalankan secara serius, berikutnya tidak sulit lagi.

Selama metode ini berjalan, ia berharap ada suatu mekanisme yang benar-benar bisa memantau dan mengevaluasi para dosen dalam mengajar. Tim penjaminan mutu yang berfungsi menjamin mutu pelaksanaan kegiatan akademik, baik di universitas maupun di fakultas, rupanya belum benar-benar berfungsi. Ia juga berharap pembinaan guru besar terhadap dosen-dosen yang ada di bawahnya dapat ditingkatkan.

 

Sosialisasi SCL

Dalam lingkup universitas, sosialisasi SCL dilakukan dengan bentuk lokakarya. Untuk itu, sambung Husein, Unpad telah menyiapkan sejumlah dana. Tahun ini tiap fakultas berhak memperoleh dana Rp 25 juta dari universitas untuk mengadakan lokakarya atau pelatihan metode SCL bagi para dosen.

”Yang penting kita bergulir saja. Metode ini mulai diterapkan secara pelan-pelan, tapi menuju ke arah perbaikan proses belajar-mengajar,” tambah mantan Dekan FMIPA Unpad itu. Keberhasilan penerapan metode ini sudah terbukti di FK. Ia mengakui, pemikiran para lulusan FK umumnya lebih kreatif daripada para lulusan fakultas-fakultas yang belum menerapkan metode SCL.

 

PBL di FK

FK memang fakultas yang lebih dulu meninggalkan metode pembelajaran konvensional dibandingkan fakultas-fakultas lainnya di Unpad. Sejak 2001 FK melaksanakan metode pembelajaran problem-based learning (PBL). Meski sama-sama berlandaskan keyakinan, bahwa pembelajaran akan lebih efektif bila mahasiswa secara aktif terlibat di dalamnya, namun PBL ternyata memiliki perbedaan dengan SCL.

PBL menggunakan kasus atau permasalahan sebagai trigger untuk mendorong proses belajar dan mengintegrasikan hal baru,” kata Tri. Jadi dalam metode ini ada proses belajar dan proses integrasinya. Ini berbeda dengan SCL yang hanya berfokus pada aspek proses belajar mandiri, sehingga tidak menjamin aspek integrasi. Integrasi yang dimaksud adalah integrasi antarbidang ilmu.

Dalam PBL mahasiswa diberikan masalah yang akan dihadapi dalam profesinya. Dengan demikian, dalam metode ini terdapat aspek penguatan relevansi terhadap kebutuhan nanti. Inilah yang juga tidak ada dalam metode SCL.

Terlepas dari hal itu, metode pembelajaran yang berfokus pada mahasiswa membawa dampak positif. Studi yang dilakukan terhadap mahasiswa FK menunjukkan terjadi peningkatan waktu belajar. Metode ini membuat mahasiswa FK rajin mencari referensi, mendorong mereka bersikap mandiri dalam belajar, dan mendorong mahasiswa berpikir, terutama untuk memecahkan masalah nyata. Akan tetapi, di sisi lain, ada keluhan mahasiswa, yaitu waktu bermain dan keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler berkurang.

“Akan tetapi mereka harusnya bisa menyadari bahwa PBL secara metode juga mendorong kemam-puan mereka dalam bermasyarakat dan memimpin, karena nggak mungkin dalam PBL mereka belajar sendiri. Dalam grup belajar ada rasa saling bertoleransi dan berdiskusi,” jelasnya.

Satu hal yang perlu diingat, berdasarkan hasil evaluasi, metode PBL tidak berpengaruh terhadap aspek kognisi atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Sebab, PBL bertujuan meningkatkan kemampuan belajar mandiri seumur hidup dan kemampuan memecahkan atau menyelesaikan masalah-masalah nyata. Ini tentu tidak bisa diukur dari IPK, tapi dampaknya jelas terlihat di dunia kerja.***(sumber photo:www.mm.unpad.ac.id) 

Vanya Chairunisa vanya chairunisa@yahoo.com

Artikel terkait