November 20, 2009

Menggapai Status Universitas Kelas Dunia

Unpad menuju world class university? Topik ini akhir-akhir ini sering menjadi perbincangan hangat sebagian mahasiswa dan dosen Unpad. Sebagian di antara mereka mendukung usaha Unpad menjadi universitas kelas dunia. Namun sebagian lagi pesimistis akan hal itu. Sindiran tajam pun seringkali mencuat ke permukaan.

Simaklah cuplikan diskusi ringan yang dilakukan tiga mahasiswa semester 7   Fikom di sela-sela acara santap siang mereka beberapa waktu lalu yang terekam  Warta LPPM.

“Sepertinya dengan adanya angan-angan Unpad untuk jadi world class university justru semakin membuktikan Indonesia belum berstatus mendunia, masih di bawah standar. Di sini fasilitas ‘nggak memadai, jalur masuk diragukan kualifikasinya, kualitas dosen juga kurang bagus, bahkan cari buku di perpustakaan pun susah,” ujar Agustiyanti membuka percakapan.

Merlinda, yang dulu aktif di UKM LPPMD, menimpali pendapat Agustiyanti. “Gue rasa isu Unpad buat jadi universitas kelas dunia ini ada hubungannya dengan rencana penetapan Unpad sebagai BHP (Badan Hukum Pendidikan) beberapa tahun lagi. Sepertinya Unpad ingin membuka investasi, ‘kan status BHP mengharuskan perguruan tinggi untuk memiliki badan-badan usaha.”

“Dengan status Unpad sebagai universitas internasional nantinya, itu akan berpengaruh kepada kuota antara WNA dan WNI. Kalau lebih banyak WNA, otomatis pemasukan Unpad akan lebih banyak,” kata Merlida argumentatif.

“Ya, takutnya kalau lebih banyak mahasiswa asing di Unpad, biayanya akan lebih mahal. Calon mahasiswa miskin makin ciut buat masuk Unpad. Mana informasi beasiswa minim pula,” timpal Agustiyanti.

Kok menurut gue, persiapan Unpad menuju world class university baru sebatas perbaikan fasilitas-fasilitas, pembangunan sana-sini,” kata Febriani.

Kekhawatiran yang  muncul dari sepenggal diskusi tanpa moderator tadi tidaklah berlebihan. Presiden BEM Unpad, Akhmad Fakhruddin Isfron yang ditemui pada Jumat (2/10) menyatakan, sebenarnya persepsi tentang world class university sebagai “sayap-sayap komersial”, imbas BHP, seperti yang dikhawatirkan banyak mahasiswa, ketika ruang-ruang untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa miskin ditutup. Dari situ muncul persepsi, Unpad sudah mulai komersil, dan yang bisa masuk ke Unpad orang-orang berduit saja. Untuk bisa menghilangkan persepsi seperti itu, Unpad harus memberikan kesempatan untuk orang-orang yang tidak mampu tetapi punya kapasitas bagus dan mumpuni.

 “Ketika Unpad nanti tiga sampai empat tahun ke depan menerapkan BHP, maka konsekuensi logis adalah 20% mahasiswa tidak mampu harus diberikan kesempatan untuk masuk Unpad. Itu yang harus berani dieksekusi,” ujar Akhmad.

Mengenai pembangunan infrastruktur yang terlihat signifikan, mahasiswa FTIP (angkatan 2004) itu berpendapat, ini mungkin salah satu strategi Rektor Unpad. Tahapan awal untuk mencapai world class university adalah dengan memperbaiki infrastruktur yang memang dibutuhkan.

“Saya lihat langkah awal Pak Ganjar adalah memperbaiki infrastruktur, namun jangan sampai fokus terlalu ke sana sehingga melupakan hal-hal yang penting, sistem birokrasi, sistem pendidikan, dan sistem jaminan mutu yang menjadi standarisasi proses pendidikan,” kata Akhmad.

Pesimisme pun diungkapkan Iwan Yulistriawan, lulusan Unpad. Menurutnya, isu Unpad menuju universitas kelas dunia sudah bukan baru, bermacam-macam sebutannya. Pernah juga Unpad mendengungkan program untuk menjadi research university. Tetapi itu di atas kertas saja, tidak ada implementasinya. Iwan mencontohkan, selama ini penelitian Unpad tidak terdengar gaungnya hingga ke luar.

Taufik Hidayat, alumni Unpad, juga sama pesimismenya dengan Iwan. Laki-laki yang aktif dalam organisasi kampus semasa jadi mahasiswa itu berpendapat sebaiknya Unpad tidak perlu menjadi world class university terlebih dahulu. Hal yang terpenting adalah menyejahterakan dahulu masyarakat di sekitar universitas. Hakikat pendidikan adalah menghilangkan penderitaan, bukan menjual ide demi mekanisme pasar.

 

BEM Siap Jadi Organisasi Konstruktif

Berbeda dengan tanggapan kedua alumni dan ketiga mahasiswa yang pesimistis, Akhmad tetap optimistis dengan rencana Unpad untuk menjadi WCU, namun tidak mungkin terealisasi dalam waktu dekat. Akhmad merasakan beberapa hal di lapangan yang  belum cukup optimal atau layak untuk Unpad dijadikan sebagai WCU. Ada beberapa hal yang bisa jadi bahan perbaikan dan itu butuh waktu. Pertama, belum semua fakultas memiliki gambaran kualifikasi yang jelas tentang lulusannya, hanya sebatas gambaran kurikulum. Kedua, masih ada “orang-orang lama”, yang masih memiliki semangat lama yang tidak open minded,  yang masih memandang mahasiswa sebagai objek, sehingga mahasiswa diharuskan mengikuti sistem yang berlaku, tidak menjadi subjek pendidikan.

 Sepakat dengan pernyataan Ganjar Kurnia seperti dikutip dari website resmi Unpad, Akhmad menyatakan seluruh warga akademik Unpad harus menyadari integritas masing-masing bahwa dirinya adalah bagian dari Unpad hingga muncul budaya organisasi yang kondusif. Akan tetapi, ia lebih sepakat apabila membutuhkan budaya organisasi yang konstruktif. BEM pun sudah mempersiapkan dukungannya kepada Unpad dalam hal ini. Pertama, satu hal yang sedang diupayakan BEM secara bersinambung adalah budaya kajian, bagaimana kemudian gerakan atau eksekusi yang dilakukan organisasi itu berdasarkan kajian yang jelas dan melibatkan mahasiswa untuk kemudian bisa berpartisipasi aktif.

“Yang pasti kita akan mewariskan budaya kajian ini hingga tingkat fakultas. Jadi kita biasakan melibatkan teman-teman dari fakultas dan kemudian bisa melanjutkan ke fakultasnya. Program kerja kami juga mengarah ke mewadahi teman-teman yang punya potensi,” kata Presiden BEM periode 2009-2010 itu.

Akhmad berpesan kepada pimpinan universitas agar tetap open minded atau terbuka dengan semua pihak. Ruang komunikasi pun harus tetap dijaga dan dibuka lebar-lebar dan tetap memberi kesempatan kepada orang-orang yang punya kapasitas dan mumpuni walaupun dari kalangan menengah dan bawah.

Nah. ***

 Purwaningtyas Permata Sari & Yesi Yulianti

Artikel terkait