August 3, 2009

Kiat Jitu Menciptakan Generasi Kritis

Mahasiswa dengan berbagai ilmu yang dimilikinya diharapkan mampu menghadapi persaingan di dunia kerja dan berkontribusi pada masyarakat. Untuk itu mahasiswa dibekali dengan berbagai pengetahuan di kampus. Lalu, apakah berbagai kegiatan pendidikan di kampus telah mampu menjadikan mahasiswa siap terjun ke masyarakat? 

Sayangnya, pada kenyataannya masih banyak mahasiswa yang tidak memiliki kecakapan dan kemampuan dalam menyelesaikan persoalan. Ini terbukti oleh hasil penelitian beberapa dosen Fakultas Psikologi Unpad.

Dr. Ratna Jatnika, MT dan kawan-kawannya pada tahun 2006 melaksanakan penelitian menggunakan alat tes I-S-T 70. Hasilnya sungguh mengejutkan kita. Mahasiswa pada tahun 2005 memiliki kemampuan mengingat yang lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa tahun 1970. Sebaliknya, pada kemampuan berpikir praktis dengan berhitung, berpikir logis-lugas, matematis, bernalar, berpikir runtut dalam mengambil simpulan, mahasiswa tahun 2005 kalah  dari mahasiswa tahun 1970.

“Corak berpikir kritis sangat penting untuk dimiliki. Dengan kemampuan ini mahasiswa mampu menganalisis dan menyelesaikan masalah saat ia terjun ke masyarakat,” ujar Ratna kepada media ini di kampus Program Pasca Sarjana Unpad baru-baru ini.

Ratna memaparkan, lemahnya corak berpikir kritis dapat dilihat pada mahasiswa yang kesulitan dalam membuat makalah. Banyak mahasiswa yang mampu menyelesaikan kegiatan perkuliahan dengan tepat waktu dengan nilai yang memuaskan, namun mereka mengalami kendala saat membuat skripsi. Menurut Ratna, hal tersebut disebabkan oleh kekurangmampuan mahasiswa dalam mengabstraksi berbagai konsep dan teori yang telah diajarkan ke dalam tulisan yang sistematis. Hambatan umum lainnya,  mahasiswa sering sekali kurang mampu menyusun perencanaan dan prioritas kegiatan akademik dan kegiatan lainnya. 

Hasil penelitian ini menggerakkan Ratna untuk melakukan penelitian lanjutan. Pada tahun 2007, bersama ketiga rekannya dari Fakultas Psikologi Unpad, yaitu Hari Setyowibowo, S.Psi, Fitri Ariyanti Abidin, S.Psi, dan Yanti Rubiyanti, S. Psi., ia menyusun penelitian yang memfokuskan pada gaya belajar dan mengajar di tingkat universitas. Penelitian mereka berjudul, “Model Corak Berpikir Mengingat dan Analitis pada Mahasiswa Berdasarkan Kesesuaian Gaya Belajar Mahasiswa dengan Gaya Mengajar Dosen”. Ini diajukan ke Unpad dan terpilih sebagai Penelitian Andalan Unpad pada 2007. Mereka memeroleh dana penelitian sebesar Rp. 73.450.000.

       Menurut Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama Unpad dan juga penguji penelitian mereka, Prof. Dr. Tb. Zulrizka Iskandar, penelitian semacam ini sangat dibutuhkan untuk perguruan tinggi, namun sangat jarang diadakan. Atas pertimbangan tersebut, penelitian ini menjadi penelitian Andalan.

Dalam penelitian ini Ratna dkk. meneliti 947 mahasiswa Unpad dan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengenai kegiatan belajar mereka. Peneliti menganalisis gaya belajar mahasiswa dengan model gaya belajar (learning style) milik David Kolb (1984). Model ini mengkaji pendekatan pada tugas (doing atau watching) dan respon emosional (thinking atau feeling). Hasil penelitian ini menunjukkan, dosen perlu menerapkan metode mengajar yang berpusat pada mahasiswa (student-centered learning) dan yang berpusat pada dosen (teacher-centered learning). Kedua gaya mengajar ini harus dipadukan secara hati-hati, sehingga membentuk corak berpikir analitis mahasiswa yang optimal.

“Dosen tidak selalu harus menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar mahasiswa. Baik dosen maupun mahasiswa harus saling memahami gaya belajar dan mengajar yang digunakan,” tutur Yanti, anggota tim peneliti.

Bagi mahasiswa yang menyukai gaya belajar yang mementingkan relasi dengan orang lain, dosen sebaiknya menerapkan gaya mengajar student-centered. Metode mengajar teacher-centered sebaiknya diterapkan pada mahasiswa yang lebih menyukai aktivitas dan pengamatan langsung.

Dari hasil penelitian itu mereka menyimpulkan pula, metode mengajar dosen umumnya cenderung ke arah teacher-centered, artinya bahan bahan belajar dan teknik yang digunakan berasal dari dosen saja. Dengan pendekatan teacher-centered, mahasiswa tidak dituntut untuk harus mampu menarik simpulan setelah mendengar, melihat, dan materi yang diajarkan. 

 

“Kesesuaian gaya mengajar dosen dengan gaya belajar mahasiswa  semakin mengarahkan mahasiswa pada critical thinking, dan hasil belajar merekapun semakin baik. Dalam proses ini mahasiswa mengalami deep learning, termotivasi, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,” papar Ratna, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Program Doktor Fakultas Psikologi Unpad.

Menurut Dekan Fikom Unpad, Prof. Dr. Deddy Mulyana, yang turut menguji hasil penelitian itu, dosen harus memiliki imajinasi, pengalaman, dan membaca banyak buku, agar kegiatan perkuliahan menjadi efektif. Keberhasilan tersebut juga bergantung kepada karakteristika pribadi dosen. Kunci dari keberhasilan pendidikan tinggi adalah membuat mahasiswa senang. Daya imajinasi dosen penting untuk membuat proses pendidikan tidak kaku. Teori dapat disampaikan dengan mengutip pengalaman pribadi atau cerita.“Sekarang kita dapat menggunakan media power point, film, atau radio dalam mempermudah proses mengajar. Dalam menulis bukupun saya  memberikan banyak penjelasan yang menarik dan tetap menggunakan banyak rujukan,” jelas dosen Jurusan Jurnalistik, Fikom Unpad itu.

Ratna dan Yanti berharap, hasil penelitian mereka dapat dimanfaatkan oleh para dosen Unpad. Sayangnya, hasil penelitian yang menarik ini belum  dipublikasikan secara luas. Hasil penelitian mereka yang sangat bagus itu baru diterbitkan dalam jurnal ilmiah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unpad saja, dan diikutkan dalam lomba poster Dies Natalis Unpad pada September 2008.

“Metode gaya belajar dan mengajar untuk gaya berpikir kritis yang kami gunakan dalam penelitian belum dijadikan pembekalan bagi dosen Unpad. Akan tetapi saya rasa Unpad telah melakukan berbagai program dalam meningkatkan kualitas pengajaran para dosen,” ujar Yanti, dosen Fakultas Psikologi. 

Kini salah satu upaya Unpad dalam meningkatkan kualitas pendidikan,  dengan mulai menyosialisasikan dan menerapkan Student-Center Learning (SCL). Kegiatan ini baru diterapkan di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi dengan nama Problem-Based Learning (PBL). Ratna dan Yanti berharap, melalui SCL mahasiswa merasakan gaya belajar yang ideal dan cocok, sehingga terbentuk lulusan Unpad yang berkualitas tinggi dan mampu berpikir secara kritis.

       “Kurikulum SCL ini berbasis kompetensi. Melalui SCL mahasiswa dilatih untuk membahas, mencari referensi, dan memecahkan suatu masalah. Dosen sebagai fasilitator membimbing dan berdiskusi bersama mahasiswa,” jelas Zulrizka, mantan Dekan Fakultas Psikologi Unpad.

       Deddy menyarankan, agar para dosen yang terlibat dalam SCL adalah dosen yang  berpengalaman mengajar yang sudah cukup lama. Sejalan dengan perjalanan kariernya, dosen dapat melakukan improvisasi dalam mengajar. Selain itu diperlukan pula pelatihan bagi dosen yang akan menerapkan SCL. Melalui SCL dosen harus mampu mendorong mahasiswa untuk belajar mandiri.

Para peneliti itu memiliki semangat yang besar dalam menyelesaikan tugas mereka, sehingga hasil penelitian itupun memuaskan. Dalam sidang pertanggungjawaban hasil penelitian itu, para penguji memberikan apresiasi yang baik. Bahkan para penguji itupun menyarankan untuk melakukan penelitian lanjutan.

 “Sebenarnya kami ingin melakukan penelitian ini dalam jangka waktu yang lebih panjang. Tetapi kami hanya mendapatkan waktu terbatas. Jadi, seminggu sekali selama sepuluh bulan kami intens membahas penelitian ini. Kami semua memiliki kesibukan mengajar, namun kami berusaha untuk menyesuaikan jadwal,” ungkap Ratna, yang kini melakukan penelitian tentang psikologi remaja di Aceh.

Menurut Ratna, untuk menjadi unggul, penelitian harus memiliki topik yang bagus, yang tertuang dalam metode penelitian yang tepat. Selain itu, hasil penelitian harus memiliki manfaat yang jelas. Tim peneliti juga harus konsisten dan tepat waktu untuk menyelesaikan penelitian,  walaupun mereka sangat sibuk di kampus.

 “Kami memang ingin mengadakan penelitian lanjutan. Kami berencana  juga akan mengadakan pelatihan cara mengajar bagi para dosen Unpad, melalui pembuatan modul yang sesuai dengan penelitian ini. Mudah-mudahan upaya kami ini mendapat dukungan penuh dari para petinggi Unpad,” ujar Yanti tersenyum optimistis..

Silahkan tunggu dan lihat realisasi niat dan upaya besar nan tulus dari Ratna dan kawan-kawannya! Semoga kita tak terlalu lama menantikannya! *** Yuliasri Perdani yuliasri_p@yahoo.com

Artikel terkait