February 14, 2005

Hubungan Antara Praktek Keagamaan Sebagai Mekanisme Koping Dengan Pengurangan Masalah Psikologis dan Spiritual Pada Pasien Stroke

Cecep Eli Kosasih, SKp.,MNS., Kusman Ibrahim, SKp.,MNS dan Ns. Nursiswati, S.Kep. Fakultas: KEPERAWATAN Sumberdana: DIKS Tahun: 2005 Abstrak: Di Indonesia penyakit serebrovascular masih menempati urutan pertama penyebab kematian. Selama proses pemulihan dari penyakit stroke, di samping masalah fisik penderita stroke juga memiliki masalah lain seperti psikologis dan spiritual. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji adakah hubungan antara praktik keagamaan yang dilakukan oleh penderita stroke dengan kondisi psikologis. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan menggunakan quesioner untuk pengumpulan datanya, kemudian data tadi dianalisa dengan menggunakan analisis deskripsi dan untuk analisis bivariat menggunakan chi square. Dari penelitian ini didapatkan hasil: Sebanyak 54 orang (61,36%) melakukan praktik keagamaan dan sebanyak 34 orang (38,6%) tidak melakukan praktik keagamaan. Sebagian besar melakukan praktik keagamaan berupa gabungan shalat dan dzikir (45,5%), ada juga yang melakukan shalat malam (12,5%), dan yang lainya adalah doa tertentu (3,4%). Sebagian besar penderita stroke tidak mengalami gangguan psikologis depressi (30,6 Olo), yang lainnya mengalami depresi ringan 22,7 Olo, sedang 20,4%, berat 6,8 % dan sangat berat 19,3%. Sedangkan untuk cemas, sebagian besar tidak mengalami gangguan (28,44%), yang lainnya mengalami cemas ringan 2,3 %, sedang 22,7 % berat 20,4 % dan sangat berat 26,1 Olo. Untuk stress, sebagian besar tidak mengalami stres (53,4%), yang lainnya mengalami stres ringan 17 %, sedang 6,8 %, berat 3,6 %, dan sangat berat 9%. Hubungan antara praktik keagamaan dengan kondisi depresi yaitu: X2 = 0,036 (koefisien kontingensi = 0,298), praktik keagamaan dengan kondisi cemas yaitu: X2 = 0.103 (koefisien kontingensi = 0.284). dan antara praktik keagamaan dengan kondisi stress yaitu: X2 = 0,108 (koefisien kontingensi = 0,282). Kesimpulan: ada hubungan yang bermakna antara praktik keagamaan dengan kondisi depresi, sedangkan untuk kondisi cemas dan stres, tidak ada hubungan yang bermakna Kata kunci:

Artikel terkait