February 14, 2005

Analisis Energi Sistem Pertanian Jawa Barat (Studi Kasus Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung)

Dr. Teguh Husodo, M.Si. Parikesit, M.Sc., Ph.D. Rimbo Gunawan, Drs., MA Fakultas: MIPA Sumberdana: HIBAH BERSAING Tahun: 2009 Abstrak: Untuk mengetahui pemanfaatan sumberdaya lokal, analisis energi pada beberapa sistem pertanian telah dilakukan pada salah satu desa di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan pengukuran langsung. Efisiensi energi dan interaksi antara masing-masing sistem pertanian yang membentuk aliran energi dianalisis, kemudian dievaluasi ketergantungannya terhadap input energi dari dalam dan luar lansekap pertanian. Meskipun sumberdaya lokal memiliki peran yang penting, penggunaan input dari luar (external) seperti pupuk kimia dan pestisida pada sistem sawah sekitar 42 % dari total input dengan efisiensi sebesar 2,78. Sebaliknya, pada sistem talun talun bambu dan talun campuran, penggunaan input dari luar seperti pupuk kimia dan pestisida adalah cukup kecil yaitu tidak lebih dari 20% dari total input, terutama pada sistem Talun Bambu hanya menggunakan 4 % dari total input. Sistem talun bambu dan talun campuran memiliki efisiensi energi lebih tinggi (talun bambu : 28,89 dan talun campuran: 19,41) dan ketergantungan terhadap input dari luar yang lebih rendah dibandingkan sistem sawah. Pada sistem kebun-talun yang merupakan sistem rotasi yang unik antara talun bambu dan kebun, ketergantungannya terhadap input dari luar adalah rendah (18 % dari total input) yang hampir sama dengan talun campuran, mengingat penggunaan input dari luar hanya pada tahap kebun saja. Dilihat dari efisiensi energi sistem kebun talun (sekitar 20,74) termasuk menengah, yaitu lebih tinggi daripada talun campuran dan lebih rendah dari talun bambu dan jauh lebih tinggi dibandingkan sistem sawah. Berdasarkan analisis aliran energi, terdapat hubungan dalam bentuk aliran energi antara sistem sawah, talun bambu, talun campuran, dan kebun talun, meskipun demikian penggunaan pupuk organik dari talun untuk sawah tidak ditemukan. Oleh karena itu, walaupun sistem talun, yang merupakan tata guna lahan dominan di lansekap pertanian dan memiliki efisiensi energi yang tinggi, kontribusinya terhadap sistem produksi sawah dan kebun adalah rendah. Untuk mengurangi tingginya ketergantungan terhadap input-input dari luar (external inputs) pada sistem sawah, aliran energi baru yang dapat ditarik dari sistem talun harus menjadi perhatian serius dalam pemanfaatan sumberdaya alam di suatu lansekap pertanian. Kata kunci: ketergantungan terhadap input dari luar, input-output, sistem produksi pertanian

Artikel terkait